journal

MADZAHIB

Jurnal Madzahib merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al Manar, dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian serta membahas perkembangan ilmu perbandingan mazhab. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel hasil penelitian ataupun penelitian terapan, artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu perbandingan mazhab, fikih kontemporer, masalah fikih dan ushul fikih. Informasi mengenai pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel terdapat pada setiap terbitan. Semua artikel yang masuk akan melalui ‘peer-review process’ setelah memenuhi persyaratan sesuai pedoman penulisan artikel. Penerbitan jurnal ini dilakukan sebanyak enam bulan sekali yaitu pada bulan Juni dan Desember

Journal Homepage Image

Announcements

 

Artikel Madzahib Volume 2: حكم اللحوم المستوردة من البلاد غير الإسلامية

 
Ali Mahfud
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email alimahfud0708@gmail.com


Abstrak

Status Hukum Daging Impor dari Negara Non-Muslim . Ekspor dan impor dalam hubungan antar negara modern merupakan hal yang lazim dilakukan. Impor dilakukan oleh suatu negara biasanya untuk memenuhi kebutuhan terhadap suatu barang yang tidak tercukupi dalam negeri. Daging misalnya menjadi salah satu komoditi yang sebagian negara medapatkannya melalui impor, tak terkecuali negara yang mayoritas penduduknya muslim. Bagi negara yang mayoritas penduduknya muslim pasti menyisakan masalah apabila komoditi berupa daging tersebut diimpor dari negara non muslim. Setatus kehalalannya harus benar- benar terjamin. Halal tidak hanya karena daging itu berasal dari hewan yang halal dikonsumsi, akan tetapi juga harus halal karena cara penyembelihannya dilakuakan sesuai syariat dan oleh orang yang sembelihannya halal menurut syariat Islam.
Kata Kunci : Hukum Daging Impor, Negara Non Muslim, Syariat Islam

Abstract
Legal Status of Imported Meat from Non-Muslim Countries. Exports and imports in relations between modern countries are common. Imports are carried out by a country usually to meet the needs of an inadequate item in the country. Meat, for example, is one of the commodities that some countries get through imports, including the majority Muslim country. For a country where the majority of the population is Muslim, it must leave a problem if the commodity in the form of meat is imported from a non-Muslim country. The halal status must be absolutely guaranteed. Halal is not only because meat comes from halal animals consumed, but also must be lawful because the way slaughter is done according to the Shari'a and by people who sacrifice halal according to Islamic law.
Keywords: Law of Imported Meat, Non-Muslim Countries, Islamic Shari'a
 
Posted: 2019-12-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 2: ISBAL PERSPEKTIF HUKUM ISLAM ( STUDI KOMPARASI TEKSTUAL DAN KONTEKTUAL )

 
Hariyanto
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email : atikahiyyad@gmail.com

Abstrak
Mengatakan bahwa orang melakukan Isbal pasti sombong bertentangan dengan pemahaman yang sehat sebagaimana tidak bisa diterima oleh realitas. Hal ini mirip seperti ungkapan; orang yang menangis pasti bersedih padahal realitasnya tidak selalu demikian. Secara realita, ada sebagian orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong misalnya orang yang kakinya luka kemudian ditutupi dengan kain panjang, atau memakai kaki palsu, atau kaki cacat dan semisalnya. Secara Nash, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri dan Abubakar juga melakukan Isbal. Seandainya Isbal pasti menimbulkan kesombongan, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abubakar termasuk shahabat-shahabat yang lain dan Tabi’in yang shalih adalah orang-orang yang jauh dari hal tersebut.
Kata Kunci : Isbal, Hadis, Hukum Islam

Abstract
To say that people do Isbal must be arrogant as opposed to sound understanding as unacceptable to reality. This is similar to the expression; people who cry must be sad even though the reality is not always the case. In reality, there are some people who do Isbal not because they are arrogant, for example, the person whose leg is injured is then covered with a long cloth, or wears a prosthetic leg, or a deformed leg, for example. In Nash, the Prophet sallallaahu ‘Alaihi Wasallam himself and Abubakar also did Isbal. If Isbal must have aroused arrogance, then the Prophet sallallaahu ‘Alaihi Wasallam and Abubakar included other friends and Tabi'in who was righteous were people who were far from it.
Keywords: Isbal, Hadith, Islamic law
 
Posted: 2019-12-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 2: HUKUM HARTA BERSAMA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF FIKIH

 
Ahmad Tarmudli
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email : tirmizi2007@gmail.com


ABSTRAK
Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Undang–undang tersebut bersifat nasional dan sudah berlaku secara formal yuridis bagi bangsa Indonesia, dan telah menjadi bagian dari hukum positif. Di mana dalam undang-undang tersebut telah mengatur prinsip-prinsip perkawinan, seperti pelembagaan harta kekayaan dalam perkawinan, pembatasan thalaq, dan rujuk, hubungan orang tua dengan anak dan lain-lainnya. Hukum Islam pada dasarnya tidak mengatur harta kekayaan bersama suami istri dalam suatu ikatan perkawinan. Para ahli hukum Islam yang diwakili oleh empat mazhab, baik itu kelompok syafiiyyah (sebagai paham hukum yang paling banyak diikuti oleh ulama Indonesia), maupun para ahli hukum Islam lainnya, tidak ada satupun yang membahas tentang harta bersama dalam perkawinan sebagaimana yang dipahami oleh hukum adat.
Kata kunci : Harta bersama, Hukum Islam, dan Perkawinan

ABSTRACT
Law No. 1 of 1974 concerning Marriage. The law is national and has been formally juridical for the Indonesian people, and has become part of positive law. Where in the law it regulates the principles of marriage, such as institutionalizing wealth in marriage, limiting thalaq, and referring, parent relations with children and others. Islamic law basically does not regulate wealth with husband and wife in a marriage bond. Islamic jurists represented by four schools, both the syafiiyyah group (as understood by the law which was most often followed by Indonesian ulama), as well as other Islamic jurists, none discussed the common property in marriage as understood by customary law .
Keywords: Shared assets, Islamic law, and marriage
 
Posted: 2019-12-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 2: SUMBER DARI SEGALA SUMBER KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

 
Munir
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email : umh.pulogadung@gmail.com

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian mengenai syirik dan tauhid ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat akademis dan masyarakat internasional bahwa Allah telah meyatakan dalam ayat Al-Qur’an mengenai sumber dari segala sumber kejahatan adalah syirik, bukan hawa nafsu, dan bukan pula syetan. Begitu pula mengenai sumber dari segala sumber kebaikan dan akhlak mulia adalah mentauhidkan Allah, atau menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Satu-satunya yang dipentingkan sedemikian rupa sehingga dia membiarkan dirinya hanya dikuasai oleh Allah Swt. Sebagai akibat yang semestinya research ini menekankan metodologi kepustakaan. Pengumpulan data dan fakta diadakan melalui penelaahan dan pengkajian terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan kepustakaan yang berisi hasil research secara khusus terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan yang tidak secara khusus, tetapi membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an dengan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu.
Kata Kunci : Syirik, Tauhid, dan Kebaikan
ABSTRACT
The purpose of this research on shirk and tauhid is to show the academic community and the international community that Allah has stated in the verse of Al-Qur'an regarding the source of all sources of evil is shirk, not lust, and not shetan. Likewise about the source of all sources of goodness and noble character is monotheating Allah, or making God the only God. The only thing that was so important was that he allowed himself to be controlled only by Allah SWT. As a result, this research should emphasize the library methodology. Data collection and facts are held through reviewing and reviewing the verses of the Qur'an and the literature which contain the results of research specifically on the verses of the Qur'an and those that are not specifically, but prove the truth of the verses of the Qur'an with approaches from various disciplines.
Keywords: Shirk, Tawheed, and Goodness
 
Posted: 2019-12-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 2: ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH DAN KONSEP

 
Abdul Kadir Abu
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email : abdul.qadir@yahoo.com

Abstrak
Tulisan ini mengemukakan bahwa dalam sejarah intelektual Islam, sebenarnya ide Islamisasi ilmu pengetahuan sudah dipraktekkan tapi tidak dalam bentuk sistematik hingga saat ini. Seperti kata Wan Mohd Nor Wan Daud, konseptualisasi intelektual formal dalam proses Islamisasi dimana umat Islam dapat melakukan kritik secara tepat dan memperoleh manfaat dari budaya dan perdaban lain, belum pernah dilakukan sampai abad ini. Tampaknya kesadaran bahwa sains modern adalah ateis secara alami dan oleh karena itu perlu diislamkan, pertama kali terdengar di awal tahun 1930-an, melalui Sir Muhammad Iqbal yang tidak menjelaskan dan mendefinisikan gagasannya. Syed Hossein Nasr, pada tahun 1960 secara implisit menunjuk metode Islamisasi sains modern dengan menyarankan bahwa yang terakhir harus ditafsirkan dan diterapkan dalam “konsepsi Islam tentang kosmos”. Ismail R.al-Faruqi- yang diuntungkan dari tulisan al-Attas- dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) kemudian mempopulerkan agenda Islamisasi ke banyak bagian dunia muslim. Namun Islamisasi pertama kali dan paling meyakinkan digaungkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas.


This paper suggests that in the history of Islamic intellectuals, in fact the idea of Islamization of science has been practiced but not in a systematic form until now. As said Wan Mohd Nor Wan Daud, formal intellectual conceptualization in the process of Islamization where Muslims can criticize appropriately and benefit from culture and other civilizations, has never been done until this century. It seems that the awareness that modern science is atheist naturally and therefore needs to be Islamized, was first heard in the early 1930s, through Sir Muhammad Iqbal who did not explain and define his ideas. Syed Hossein Nasr, in the 1960s implicitly pointed to the method of Islamization of modern science by suggesting that the latter must be interpreted and applied in the "Islamic conception of the cosmos". Ismail R.al-Faruqi- who benefited from the writings of al-Attas- and the International Institute of Islamic Thought (IIIT) then popularized the Islamization agenda to many parts of the Muslim world. But the first and most convincing Islamization was echoed by Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Keywords: Islamization, Islam, and the world

Kata kunci : islamisasi, Islam, dan dunia
 
Posted: 2020-01-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 2: PROBLEMA MUFTI SEBAGAI PEJABAT PUBLIK (ANALISIS NORMATIF)

 
Idrus Abidin
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email :abuwildan1978@gmail.com

Abstrak

Tulisan ini berdasarkan asumsi bahwa seorang mufti harus memenuhi beberapa kriteria seperti ilmu yang mendalam, menghindari sikap memudahkan permasalahan, berusaha ekstra keras untuk menemukan pendapat yang paling kuat pada masalah yang ditanyakan dll. Berdasarkan analisa yang digunakan, ditemukan bahwa pemimpin tertinggi yang membawahi para mufti danjurkan agar senantiasa mengecek para mufti yang layak dan tidak layak. Sehingga yang tidak layak diberhentikan dari profesinya agar tidak berfatwa berdasarkan hawa nafsu dan tidak menyesatkan masayarakat. Namun, jika memang seorang mufti dianggap cakap, hanya saja terjadi kesalahan dan keteledoran dalam merilis fatwa, maka sang mufti harus menginformasikan kesalahan tersebut kepada penanya. Jika ditemukan ada mufti yang gemar mengoleksi rukhsah yang diberikan setiap imam mazhab dalam banyak fatwanya maka hal seperti ini harus dicegah karena bisa menyebabkan sang mufti menjadi orang zindiq.

Kata kunci : fatwa, mufti dan pejabat publik
 
Posted: 2019-12-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 1: HUKUM MENIKAH DENGAN NIAT TALAK

 
HUKUM MENIKAH DENGAN NIAT TALAK

Hariyanto
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email :atikahiyyad@gmail.com


Abstrak

Nikah dengan niat talak menurut ulama jumhur seperti Syafiiah, Malikiah, dan Hanafiah itu boleh berdasarkan dengan dalil naqli dan logika di karenakan niat adalah bahasa hati yang tidak berimplikasi pada hukum. Pernikahan seperti ini adalah pernikahan yang sudah memenuhi kriteria-keteria yang benar baik secara rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya. Sedangkan menurut pandangan Imam al-Auzai, al-Mardawi, dan Rasyid Rida pernikahan itu haram berdasarkan pertimbangan analogi (qiyas), bahwa nikah dengan niat talak di analogikan dengan nikah mut’ah dikarenakan hal ini dikaitkan dengan waktu yang menjadi akhir dari sebuah pernikahan. Sementara itu nikah dengan niat cerai ini juga sangat bertentangan dengan maksud dan tujuan dari sebuah pernikahan yang disyariatkan dimana antara keduanya dapat menjalin hubungan rumah tangga yang berkesinambungan, memelihara keturunan, dan menjaga ketentraman dalam rumah tangga, oleh karena itu nikah seperti ini di haramkan untuk menghindari keruskan-kerusakan yang lebih besar.

Kata kunci : Nikah, Niat Cerai, Mazhab


Abstract

Marriage with the intention of divorce according to jumhur mazhab such as Syafiiah, Malikiah, and Hanafiah may be based on naqli arguments and logic because intention is the language of the heart which has no legal implications. Marriage like this is a marriage that has fulfilled the criteria of being right both in harmony and the conditions. Whereas in the view of Imam al-Auzai, al-Mardawi, and Ridaid Rida marriage is forbidden based on consideration of analogies (qiyas), that marriage with the intention of divorce is analogous to nikah mut'ah because this is associated with the time of the end of a marriage. Meanwhile this divorced marriage is also very contrary to the intent and purpose of a marriage which is intended where between them can establish a sustainable household relationship, maintain the offspring, and maintain peace in the household, therefore marriage like this is forbidden to avoid greater damage.

Keywords: Marriage, Intention of Divorce, Mazhab
 
Posted: 2019-06-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 1: KONSEP FATWA DALAM PERSFEKTIF HUKUM ISLAM (ANALISIS NORMATIF)

 
Idrus Abidin
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email :abuwildan1978@gmail.com


ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi dunia Islam yang senantiasa membutuhkan tokoh yang memiliki kualifikasi keilmuan yang mapan. Sehingga diharapkan mampu mendialogkan antara teks-teks syari’at yang bersifat normatif dengan realitas (waqi’) masyarakat muslim yang senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan. Dengan demikian, di saat kaum muslimin berharap tetap senantiasa kokoh dalam beragama, juga tetap bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada di sekitarnya. Terutama hal-hal yang terkait dengan modernitas (sains dan tekhnologi) yang tentunya sedikit banyak mempengaruhi orientasi kehidupan masyarakat secara umum. Sedang rumusan masalah yang menjadi landasan peneliatian ini adalah : pertama, bagaimana sebenarnya hakikat fatwa secara normatif. Kedua, bagaimana kriteria seorang mufti berdasarkan pengarahan Islam dan ketiga, bagaimana ketentuan orang-oang yang meminta fatwa serta hal-hal yang terkait dengan isi fatwa yang diberikan oleh seorang alim ulama.

Kata kunci: syariat, fatwa dan mufti


ABSTRACT

This research is motivated by the condition of the Islamic world which always needs figures who have established scientific qualifications. So that it is expected to be able to dialogue between the Shari'ah texts that are normative with the reality (waqi ') of the Muslim community which constantly experiences development and change. Thus, when the Muslims hope to remain solid in religion, they can still adjust to the developments around them. Especially things that are related to modernity (science and technology) which certainly affect the orientation of society in general. While the formulation of the problem which is the basis of this research is: first, how the nature of the fatwa is normatively. Second, what are the criteria for a mufti based on Islamic directives and thirdly, what are the provisions of people who ask for a fatwa and matters related to the contents of the fatwa given by a scholar.

Keywords: syariat, fatwa and mufti
 
Posted: 2020-01-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 1: PENDEKATAN PREVENTIF DANKURATIFDALAMMENEKANANGKA KEJAHATANDI MASYARAKAT

 
Ahmad Tarmudli, Lc, MHI
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email : tirmizi2007@gmail.com

Abstract
Official data shows an increase in crime rates that are increasingly troubling the public. In a situation like this, people's trust in the law and its practices began to erode. The task of eradicating crime or reducing the numbers lies with the authorities as legislators and executors. But the community and the elements within it also have roles as facilitators and initiators. This paper tries to review the problem of overcoming crime from two approaches; preventive and curative.

Keywords: crime rates, preventive and curative

Abstrak
Data-data resmi menunjukkan peningkatan angka kejahatan yang semakin meresahkan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan praktiknya mulai terkikis. Tugas memberantas kejahatan atau mengurangi angkanya, terletak di pundak penguasa sebagai legislator dan juga eksekutor. Namun masyarakat dan unsur-unsur yang berada di dalamnya juga memiliki peran sebagai fasilitator dan inisiator. Tulisan ini mencoba mengulas soal mengatasi kejahatan dari dua pendekatan; preventif dan kuratif.

Kata kunci : angka kejahatan, preventif dan kuratif
 
Posted: 2019-06-01 More...
 

Artikel Madzahib Volume 1: Analisis Normatif Buku “Adab Al Alimi wa al Muta’allimi wa al Mufty wa al Mustafty wa Fadhlu Thalibi al Ilmi”, Karya Imam Nawawi

 
Analisis Normatif Buku “Adab Al Alimi wa al Muta’allimi wa al Mufty wa al Mustafty wa Fadhlu Thalibi al Ilmi”, Karya Imam Nawawi


Abdul Kadir Abu
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar
Jl. Nangka I No.4, Jakarta Timur. Email :abdul.qadiir@yahoo.co.id



ABSTRAK

Keberadaan seorang Âlim yang berkarakter adalah salah satu unsur penting dalam proses pendidikan. Alasannya sangat sederhana yaitu Âlim merupakan bagian dari komponen pendidikan yang memegang peran sentral sekaligus menjadi figur utama yang melakukan kontestasi pendidikan sehingga suatu proses pendidikan dinilai berhasil. Namun keberhasilan itu tidak bisa dicapai tanpa adanya realisasi yang integral antara ilmu, iman dan akhlak.Untuk mewujudkan integrasi iman, ilmu dan akhlak dibutuhkan figur utama tersebut sebagai sentral pendidikan dalam mendapatkan keteladanan, yang memiliki kepribadian dan intelektualitas yang baik sesuai dengan Islam. Sehingga konsep pendidikan yang diajarkan dapat langsung diterjemahkan melalui diri para pendidik. Inilah yang disebut qudwah sebagai salah satu model pendidikan karakter dalam al-Qur’an.

Kata kunci : alim, pendidikan, dan karakter

ABSTRACT

The existence of a character with character is an important element in the education process. The reason is very simple: Climate is part of the education component which holds a central role and is also the main figure who conducts educational contestation so that an educational process is considered successful. But that success cannot be achieved without an integral realization between science, faith and morals. To realize the integration of faith, science and morals, the main figure is needed as the central education in getting exemplary, who has personality and intellectuality that is in accordance with Islam. So that the concept of education taught can be directly translated through the self of educators. This is what is called qudwah as a model of character education in the Qur'an.

Keywords: alim, education, and character
 
Posted: 2019-06-01 More...
 
More Announcements...