journal

Artikel Madzahib Volume 2: ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH DAN KONSEP

PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang berdasarkan wahyu yang sarat dengan nilai-nilai yang salah satu fungsinya adalah solusi atas problematika yang terjadi ditengah masyarakat. Islam selama berabad-abad lamanya telah menorehkan prestasi yang dicatat dalam sejarah karena keberhasilannya memimpin dunia dan membangun sebuah peradaban yang besar yang dikenang sepanjang masa.Lalu kemudian menjadi sebuah ironi ketika sejarah juga mencatat bahwa keberhasilan Islam dalam membangun sebuah peradaban besar kemudian jatuh, yang oleh sebagian kalangan dinilai sangat erat kaitannya dengan mandeknya tradisi keilmuan dikalangan umat Islam.
Pada saat yang sama, di Barat terjadi sebaliknya, mereka maju dan berkembang dengan sangat pesat dalam bidang ilmu pengetahuan. Akan tetapi kemajuan yang berlandaskan pada paham sekularisme, rasionalisme, utilitarisme dan materialisme telah membawa dunia dalam kemerosotan dan kehancuran moralitas (akhlak) sehingga benar-benar berada dalam titik yang sangat mengkhawatirkan; ketimpangan sosial, berkurangnya adat sosial, hilangnya standar etika baik dalam diri per individu maupun masyarakat dan lain-lain sebagainya.
Untuk mengatasi tragedi dan menyelamatkan masyarakat modern khususnya umat Islam dari dampak peradaban Barat yang bebas nilai tersebut, maka kalangan ilmuan Muslim sejak awal abad 20-an mulai menggulirkan ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Sebuah usaha untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan agama.
Untuk menggambarkan Islamisasi ilmu pengetahuan, penulis dalam makalah ini akan memaparkan antara lain; Pertama, sejarah munculnya Islamisasi ilmu pengetahuan. Kedua, Pengertian Islamisasi ilmu pengetahuan.Ketiga, konsep Islamisasi ilmu pengetahuan, dan Keempat, kritik atas konsep Islamisasi ilmu pengetahuan

PEMBAHASAN
Sejarah Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Apabila Islamisasi ilmu pengetahuan dilihat dari sejarah kemunculannya maka kajian tentang hal ini dapat dilihat dari dua segi, yaitu ;
a. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Masa Klasik
Menurut AM Saefuddin; Islamisasi ilmu pengetahuan pada masa klasik dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek ontologi, aspek epistemologi dan aspek aksiologi. Pertama, aspek ontologi. Dalam Islam klasifikasi ilmu dapat dibagi kedalam tiga bagian yakni ilmu kealaman, humaniora dan ilmu sosial. Ilmu alam itu kontennya netral sehingga tidak perlu diislamkan. sedangilmu humaniora yang termasuk didalamnya filsafat meskipun tampaknya tidak terlalu berbeda dengan apa yang ada pada masa Yunani, tetapi hal-hal yang dibahasnya ditemukan akarnya dalam al-Qur,an. Ilmu humaniora dimasukkan kedalam klasifikasi al-,Ulum al-Syar’iyyah yang dasar utamanya diambil dari ideologi, etik dan nilai Islam. Dan jika interpretasi ini dapat diterima maka ilmu humaniora bisa dikategorikan sebagai produk Islamiasasi. Kedua, dari aspek epistemologi atau metode ilmu yang dipergunakannnya, keilmuan Islam klasik menurut Nasr menggunakan metode pluralistik. Demikian juga menuurt Sardar, interelasi ilmu dalam Islam merupakan aspek penting dari epistemologi Islam. Pencarian ilmu bukan wajib dalam dirinya, tetapi merupakan suatu bentuk ibadah dan berhubungan setiap nilai dalam al-Qur’an seperti khilafah, ‘adl, dan istishlah. Metode yang holistik dari epistemologi Islam dan penekanannya pada kesatuan ilmu dan nilai, material dan metafisik, menyebabkan ilmu Islam unik sifatnya.
Ketiga, dari aspek aksiologi nilai dalam ilmu yang dikembangkan adalah adalah sesuatu yang sangat penting dalam Islam. AM Saefuddin mengutip pendapat Nasr, bahwa situasi sekarang sangat berbeda dengan keadaan abad ke-3 H/9 M. Pada masa lalu tantangan kaum muslimin semata-mata tantangan intelektual dan tidak dilatar belakangi oleh tantangan kekuatan militer, politik atau ekonomi. Ilmu yang diterima Islam adalah tubuh pengetahuan yang tak berubah selama proses dari kritik dan asimilasinya. Islam klasik tidak mengalami kesulitan sebagaimana yang ditemui dimas kontemporer karena pada masa klasik tidak ada keuatan militer, politik dan ekonomi yang berdiri dibelakang ilmu yang diterima dari Yunani, Persia dan India.
Sedangkan menurut Budi Handrianto, sejak dahulu Islam pernah melakukan Islamisasi ilmu. Yaitu pengambilan ilmu-ilmu dari peradaban Yunani kuno, Persia maupun India. Sebenarnya menurut penulis awal kemunculan dan perkembangan Islamisasi ilmu pengetahuan dan sains di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah ekspansi Islam itu sendiri dalam tempo sekitar 25 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW (632 M). kaum muslimin telah berhasil menaklukkan selurunh jazirah Arabia dari selatan hingga utara. Yang dalam sejarah Islam ekspansi dakwah ini disebut “ pembukaan negeri-negeri (futûh al-buldân).
Selanjutnya Handrianto mengutip gambaran proses sejarah munculnya Islamisasi ilmu pengetahuan yang sangat baik dipaparkan oleh sejarawan sains muslim terkemuka, Sayyed Hossein Nasr, sebagai berikut, “ dalam kedua kasus tersebut (yakni kemunculan sains di dunia Islam dan Eropa Barat) memang ada masa pemindahan, namun ada juga masa pengunyahan, pencernaan dan penyerapan, yang berarti penolakan. Tidak pernah ada sains yang diserap tanpa ada penolakan sedikitpun. Mirip dengan tubuh kita, kalau kita cuma makan saja, tetapi badan kita tidak mengeluarkan sesuatu, maka dalam beberapa hari saja kita akan mati. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus di buang”.
Dalam proses interaksi tersebut, kaum Muslimin pun terdorong untuk mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya, dengan menerjemahkan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syriac) kedalam bahasa Arab yang digalakkan pada masa Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Syria. Pelaksananya adalah para cendikiawan dan paderi yang juga dipercaya sebagai pegawai pemerintahan. Hingga terjadi akselerasi setelah tahun 750 M menyusul berdirinya Daulat Abbasiyah yang berpusat di Bagdad.
Selanjutnya patut kita pertanyakan, mengapa pada saat itu kaum muslimin dapat melakukan apropriasi sains yang begitu sukses dan diakui oleh dunia? Setidaknya ada lima faktor menurut Syamsuddin Arif yang mendorong suksesnya proses apropriasi sains di dunia Islam yang sempat memukau dunia, yaitu ; pertama, kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami, dan mengajarkan ajaran Islam. Kedua, adanya motivasi agama. Ketiga, faktor sosial, politik Keempat, faktor ekonomi dan kelima, faktor dukungan dan perlindungan politis dari penguasa pada saat itu.
b. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer
Menurut Abuddin Nata, Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah suatu respons terhadap krisis masyarakat modern yang disebabkan karena pendidikan barat yang bertumpu pada suatu pandangan dunia yang lebih bersifat materialistis dan relavistis; yang menganggap bahwa pendidikan bukan untuk membuat manusia bijak yakni mengenali dan mengakui posisi masing-masing dalam tertib realitas tapi memandang realitas sebagai suatu yang bermakna secara material bagi manusia, dank arena itu hubungan manusia dengan tertib realitas bersifat eksploitatif bukan harmonis. Ini adalah salah satu penyebab penting munculnya krisis masyarakat modern. Jadi dalam pandangan Abuddin Nata di atas Islamisasi Ilmu pengetahuan pada era modern bertujuan mengatasi dampak dari Ilmu pengetahuan Barat yang materialistis, sehingga perlu diislamisasikan agar dampak pencapaian dalam ilmu pengetahuan memiliki nilai-nilai mulia, nilai pengabdian kepada Allah SWT..
Ini tentu saja sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Maksudin tentang Paradigma agama dan sains nondikotomik, dimana sains secara esensial dan subtansial terintegrasi dan tidak bisa berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Pemisahan sains dalam kajian atau pendalaman, untuk tujuan spesialisasi saja, akan tetapi pada hakekatnya tidak terjadi pemisahan antar ilmu baik natural sciences maupun social sciences dengan agama. Karena justru lahirnya sains bermula dan berdasar dari agama.
Dalam sejarah intelektual Islam, sebenarnya ide Islamisasi ilmu pengetahuan sudah dipraktekkan tapi tidak dalam bentuk sistematik hingga saat ini. Seperti kata Wan Mohd Nor Wan Daud, konseptualisasi intelektual formal dalam proses Islamisasi dimana umat Islam dapat melakukan kritik secara tepat dan memperoleh manfaat dari budaya dan perdaban lain, belum pernah dilakukan sampai abad ini. Tampaknya kesadaran bahwa sains modern adalah ateis secara alami dan oleh karena itu perlu diislamkan, pertama kali terdengar di awal tahun 1930-an, melalui Sir Muhammad Iqbal yang tidak menjelaskan dan mendefinisikan gagasannya. Syed Hossein Nasr, pada tahun 1960 secara implisit menunjuk metode Islamisasi sains modern dengan menyarankan bahwa yang terakhir harus ditafsirkan dan diterapkan dalam “konsepsi Islam tentang kosmos”. Ismail R.al-Faruqi- yang diuntungkan dari tulisan al-Attas- dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) kemudian mempopulerkan agenda Islamisasi ke banyak bagian dunia muslim. Namun Islamisasi pertama kali dan paling meyakinkan digaungkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Pendapat hampir senada dikemukakann oleh AM Saefuddin, bahwa dalam konteks “kerangka operasional” Islamisasi Ilmu-ilmu modern sekarang dicetuskan semula oleh tokoh-tokoh ilmuan Islam seperti Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Ismail Raji Al-Faruqi, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr, Kuntowijoyo dan lain-lain. Namun AM saefuddin juga mengakui bahwa rujukan Islamisasi sains biasanya memang berpusat pada dua tokoh utama, yaitu Ismail Raji Al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas di tahun 80-an. Namun jika ditelusuri ke belakang, pemikiran Al-Faruqi dan Al-Attas tentang Islamisasi sains ternyata diilhami oleh Muhammad Abduh dan lebih menajam pada sosok Muhammad Iqbal tahun 1928 yang mengagas rekonstruksi pemikiran Islam di awal abad ke 20-an.
Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Islamisasi berasal dari kata Islam yang berarti tunduk, selamat dan damai. Islam berarti menampakkan kepatuhan dan penerimaan terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Islam berarti pula agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Selanjutnya Islamisasi adalah kata benda dari “mengislamkan” yang berarti suatu upaya untuk menjadikan Islam atau bersifat Islami.
Untuk memperjelas pemahaman tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, penulis akan mengemukakan beberapa defininisi, antara lain ;
Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islamisasi adalah pertama-tama membebaskan manusia dari tradisi magis, mitos, animistik, nasional kultural, dan sesudah itu pembebasan dari pengendalian sekuler terhadap nalarl dan bahasanya. Orang Islam adalah ia yang nalar dan bahasanya tidak lagi kendalikan oleh magis, mitologi, animisme dan tradisi nasionalisme dan kulturaln serta sekularisme. Inilah perbedaan antara Islam dan sekularisme. Ia juga membebaskan dari ketunduk patuhan terhadap tuntutan-tuntutan badaniahnya yang cenderung kearah sekuler dan ketidak adilan terhadap diri atau jiwanya yang sejati. Karena secara fisik manusia cenderung lupa akan kodratnya yang sejati dan menjadi masa bodoh terhadap tujuan hidupnya yang benar serta tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses yang tidak begitu banyak berarti sebagai evolusi daripada sebagai devolusi kepada sifatnya yang asli. Jadi dalam tatanan individu , keberadaan Islamisasi secara sosial dan historis merujuk kepada komunitas komunitas yang berjuang menuju realisasi kualitas moral dan etika kesempurnaan sosial yang dicapai selama zaman Nabi Muhammad saw, berdasarkan tuntunan dari Allah Swt..
Terkait definisi di atas, Wan Daud mengatakan, meskipun Islamisasi pengetahuan kontemporer yang diperlukan melibatkan proses dewesternisasi yang selektif, namun pada dasarnya merupakan sebuah proses kembali kepada pandangan alam yang metafisik, kerangka epistemic, dan prinsip-prinsip etika dan hukum Islam. Sayangnya, Islamisasi sering direduksi untuk melegalkan atau menegakkan sebagian en-titas sosial politik, dan ilmu pengetahuan secara serampangan disamakan sebatas fakta, keterampilan dan teknologi
Sedangkan Al-Faruqi menyebut Islamisasi ilmu pengetahuan dengan Islamization of Knowledge (IOK). Bagi al-Faruqi, islmaisasi ilmu pengetahuan merupakanusaha untuk mengacukan kembali ilmu, yaitu untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikir kembali argumen dan rasionalisasi berhubung data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, membentuk kembali tujuan dan melakukannya secara yang membolehkan disiplin itu memperkaya visi dan perjuangan Islam.
Dapat ditarik kesimpulan dari definisi di atas, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah suatu upaya untuk mengaitkan kembali agama dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi dikhotomi antara agama dan ilmu pengetahuan sebagai produk dari masyarakat Barat dan budaya masyarakat modern yang memandang sifat, metode, struktur sains dan agama jauh berbeda atau dapat dikatakan kontradiktif. Di satu sisi agama melihat suatu persoalan dari segi normatif (bagaimana seharusnya), dan dari sisi yang lain sains melihat dari segi obyektifnya (bagaimana adanya). Agama melihat solusi dari suatu masalah berdasarkan petujuk Tuhan sedangkan Ilmu pengetahuan melihatnya dari sudut eksperimen dan akal manusia.
Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Keterbelakangan dan kemunduranyang dialami oleh umat Islam, adalah kondisi berbanding terbalik jika dilihat kemajuan dialami oleh Barat dalam bidang ilmu pengetahuan yang begitu pesat dan signifikan. Disatu sisi umat Islam masih bergulat dengan berbagai permasalahan keterbelakangan sosial, ekonomi, dan kultural sementara pada sisi yang lain Barat begitu menikmati kejayaan dalam bidang sosial, ekonomi, teknologi dan lain-lain.
Kondisi tersebut di atas menarik perhatian dan keprihatinan dikalangan pemikir dan cendikiawan muslim beberap dekade yang lalu menyerukan supaya pengembangan sains perlu dikembangkan kepada induknya, yaitu Islam. Ada beberapa tokoh yang mengkritik pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dan terpisah dari ajaran agama. Antara lain Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Ismail Raji Al- Faruqi, dan Sayyed Hossein Nasr. Kritik tersebut bertujuan agar ilmu pengetahuan dapat membawa kepada kesejahteraan bagi umat manusia. Pengembangan ilmu pengetahuan perlu dikembalikan kepada kerangka dan persfektif ajaran Islam.
Dalam buku “ Islamisasi Sains”, Handrianto melihat peran utama ketiga tokoh di atas sebagai penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Attas misalnya sebagai penggagas awal ide Islmaisasi ilmu pengetahuan disebutkan oleh Wan Daud dalam bukunya “The Education Philosophy” telah menemukan tiga di antara temuan ilmiah terpenting dunia Islam abad ini yaitu problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai (netral), dan umat Islam perlu mengislamkan ilmu pengetahuan masa kini.
Sedangkan Sayyed Hossein Nasr melihat perlunya usaha Islamisasi ilmu modern pada tahun 1960-an dalam konteks sain Islam. Beliau meletakkan aspek teori dan praktek melalui karyanya “ Science and Civilization ini Islam (1968) dan Islamic Science (1976).
Sementara itu, Islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam. Dengan demikian, umat Islam harus membagi, kemudian mengklasifikasikan disiplin ilmu-ilmu modern yang sesuai dengan pandangan dunia dan nilai-nilai Islam atau dengan versi lain Islamisasi ilmu pengetahuan adalah suatu upaya untuk menyusun dan membangun hubungan disiplin ilmu dengan memberinya dasar baru yang konsisten dengan Islam.
Setidaknya dalam rumusan al-Faruqi tujuan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah:
a. Penguasaan displin ilmu modern
b. Penguasaan khazanah Islam
c. Penentuan relevansi Islam bagi masing-masing bidang ilmu modern
d. Pencarian sintesa kreatif antara khazanah Islam dan ilmu modern.
e. Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah Swt..
Untuk merealisasikan tujuan-tujuan di atas, al-Faruqi menawarkan 12 langkah strategis yang harus ditempuh. Selanjutnya penulis mencoba merangkum langkah-langkah tersebut dalam uraian berikut ini :
a. Penguasaan Disiplin Ilmu Modern: Penguraian Kategoris.
Ilmu-ilmu modern yang maju di Barat harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodollogi, problema-problema dan tema-tema serta warnanya masing-masing. Penguraiannya harus mencerminkan daftar isi sebuah buku pelajaran dalam bidang metodologi disiplin ilmu yang bersangkutan atau silabus kuliah-kuliah disiplin ilmu tersebut seperti yang harus dikuasai oleh seorang mahasiswa tingkat sarjana. Hasil uraian tersebut harus berbentuk kalimat-kalimat yang memperjelas istilah-istilah teknis, menerangkan kategori, prinsip, problema dan tema pokok disiplin ilmu-ilmu tersebut.
b. Survei Disiplin Ilmu.
Setiap disiplin ilmu harus disurvei dan dan esei-esei harus ditulis dalam bentuk bagan mengenai asal usul dan perkembangannya beserta perkembagan metodologinyaperluasan cakrawala wawasannya, dan tak lupa kontribusi-kontribusi para tokoh utama ilmu tersebut. Tujuannya adalah memantapkan pemahaman muslim akan disiplin ilmu yang dikembangkan di dunia Barat. Survey disiplin ilmu yang cukup berbobot dan dilengkapi catatan pustaka dan catatan kaki akan menjadi dasar bagi para ilmuan muslim untuk melakukan Islamisasi ilmu.
c. Penguasaan Khazanah Islam: sebuah Antologi.
Perlu ada penemuan sampai seberapa jauh khazanah ilmiah Islam menyentuh dan membahas obyek disiplin ilmu tersebut. Karena warisan ilmiah para ilmuan Islam tersebut akan menjadi titik awal dala usaha Islamisasi ilmu-ilmu modern. Dan sebaliknya akan menjadi hampa jika warisan ilmiah tersebut diabaikan. Selanjutnya para ilmuan Muslim yang dididik secara tradisional, tidak dapat menemukan relevansi khazanah ilmiah Islam tersebut bagi disiplin ilmu modern karena tidak dikenal dalam khazanah Islam. Maka perlu ilmu-ilmu modern perlu dikenalkan kepada mereka lalu kemudia diberi ruang untuk mencari hal-hal yang relevan dengan khazanah ilmiah Islam.
d. Penguasaan Khazanah Ilmiah Islam tahap Analisa.
Untuk dapat memahami kristalisasi wawasan Islam mereka , karya-karya mereka perlu dianalisa dengan latar belakang sejarah dan kaitan antara masalah yang dibahas dengan berbagai bidang kehidupan manusia perlu diidentifikasi dan diperjelas.
e. Penentuan Relevansi Islam Yang Khas Terhadap Disiplin-displin Ilmu.
Dalam tahap ini nantinya, hakikat ilmu modern, metodologinya, prinsip-prinsip, tujuan, masalah-masalah disekitarnya maupun harapan dan hasil yang dicapai diarahkan pada kerangka keilmuan Islam. Terkait dengan relevansi khazanah Islam, harus dijabarkan secara logis dan proporsional. Terkait hal ini setidaknya ada tiga persoalan yang harus di jawab; Pertama, Apa yang telah disumbangkan oleh Islam mulai dari al-Qur’an hingga kaum modernis masa kini, kepada keseluruhan permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian disiplin ilmu-ilmu modern? Kedua, seberapa besar sumbangan itu jika dibandingkan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu Barat tersebut? Ketiga, apabila ada bidang-bidang maslah nyang sedikit disentuh atau bahkan diluar jangkauan khazanah Islam, kearah manakah upaya Muslim harus diusahakan untuk mengisi kekurangan, merumuskan kembali permasalahannya dan memperluas cakrawala wawasan disiplin ilmu tersebut?
f. Penilaian Kritis Terhadap Disiplin Ilmu Modern: Tingkat Perkembangannya di Masa Kini.
Langkah yang paling utama dalam proses Islamisasi adalah melakukan analisa kritis terhadap masing-masing disiplin ilmu dilihat dari sudut pandang Islam. Selanjutnya permasalahan pokok dan mendasar serta tema-tema abadi masing-masing disiplin harus dianalisis untuk mendapatkan pengandaian-pengandaian yang diambilnya beserta hubungannya dengan wawasan inti dari disiplin ilmu yang bersangkutan. Akhirnya tujuan utama masing-masing disiplin ilmu harus dikaitkan secara kritis dengan metodologi yang dipakai beserta sasaran yang akan dicapainya.
g. Penilaian Kritis Terhadap Khazanah Islam: Tingkat Perkembangannya Dewasa Ini
Yang dimaksud khazanah Islam dalam konteks ini adalah al-Qur’an dan Sunnah. Namun demikian al-Qur’an dan Sunnah bukan sasaran kritik atau penilaian karena keduanya bersifat normative dan bukan ajang untuk dipertanyakan. Tetapi yang dipertanyakan adalah pemahaman muslim mengenai kedua sumber tersebut. Bahkan harus selalu dinilai dan dkritik berdasarkan prinsip-prinsip yang bersumber dari kedua sumber pokok Islam tersebut. Selanjutnya relevansi pemahaman manusia tentang wahyu ilahi diberbagai bidang permasalahan ummat manusia dewasa ini harus dikritik dari tiga sudut peninjauan, yaitu; Pertama wawasan Islam sejauh yang ditarik lansung dari sumber-sumber wahyu beserta kongkretisasinya dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw, para sahabat dan keturunannya ra. Kedua, kebutuhan mendasar umat Islam masa kini, Ketiga, semua pengetahuan modern yang diwakili oleh disiplin tersebut. Apabila ternyata khazanah Islam tidak sesuai dan berseblahan harus dikoreksi demngan usaha-usaha kita masa kini.
h. Survei Permasalahan yang Dihadapi Ummat Islam
Semua permasalahan yang dihadapi umat Islam yang dibaratkan bagai sebuah gunung es, yang berupa semua perangkat sebab, manifestasi, dialektika dengan fenomena dan akibat dari permasalahan yang dihadapi umat, membutuhkan survey empiris dan analisa kritis. Kearifan yang dikandung setiap disiplin ilmu harus dihadapkan dan dimanfaatkan untuk menanggulangi permasalahan umat Islam agar supaya kaum muslim dapat memahaminya dengan benar, menilai dengan tepat ppada kehidupan umat serta memtakan dengan teliti semua pengaruh yang dapat diberikannya pada tujuan global muslim.
i. Survei Permasalahan yang Dihadapi Umat Manusia
Para pemikir Islam dipanggil untuk menghadapi masalah-masalah yang dihadapi dunia dewasa ini, dan untuk membuat penyelesaian masalah tersebut sesuai dengan Islam. Masalah-masalah tersebut merupakan suatu wilayah lain bagi rujukan pemikiran, perencanaan dan pelaksasnaan Islam yang sangat penting bagi kesejahteraan baik ummat Islam maupun umat manusia. Untuk memecahkan permasalahan ini dan untuk menuntun umat manusia kearah kesejahteraan, yaitu kearah kemakmuran dengan keadilan dan keluhuran yang tak dapat dipisahkan dari harapan Islam.
j. Analisa Kreatif dan Sintesa
Setelah memahami hal-hal yang disebutkan sebelumnya, tiba saatnya untuk sebuah lompatan kreatif pikiran Islam. Sebuah jalan baru harus dirambah untuk Islam di abad lima belas ini agar dapat merebut kembali kepemimpinannya di duania dan untuk melanjutkan peranannya sebagai penyelamat dan peningkat peradaban manusia. Sintesa kreatif harus dicetuskan di antara ilmu-ilmu Islam tradisional dan disiplin ilmu modern untuk dapat mendobrak kemandegan selama beberapa abad terakhir ini. Khazanah ilmu-ilmu Islam harus sinambung dengan hasil-hasil ilmu modern, menjaga relevansinya dengan realitas umat Islam dengan memperhatikan permasalahan yang telah dikenali dan dimainkan terdahulu. Disamping memberikan penyelesaian tuntas bagi permasalahan dunia juga memperhatikan permasalahan yang selalu muncul dari harapan Islam.
k. Penuangan Kembali Disiplin Ilmu Modern ke dalam Kerangka Islam: Buku-buku Daras Tingkat Universitas
Berdasarkan wawasan-wawasan baru tentang makna Islam serta pilihan-pilihan kreatif bagi realisasi makna tersebut itulah sejumlah buka daras tingkat perguruan tinggi akan ditulis di semua bidang keilmuan modern. Berbagai esei yang mencerminkan dobrakan-dobrakan pandangan bagi setiap topik, cabang ilmu, atau permasalahan harus terkumpul cukup banyak agar supaya sebuah “ wawasan latar belakang”, atau “ bidang relevansi” dimana akan muncul wawasan Islam bagi masing-masing cabang ilmu modern.

Penyebarluasan Ilmu-ilmu yang Telah diislamkan.
Karya-karya ilmuan muslim apa saja yang dibuat berdasar Lillahi ta’ala menjadi milik seluruh umat Islam. Itu berarti karya yang dituli karena Allah SWT., mengharuskannya untuk tersedia bagi siapa saja yang ingin menginvestasikan kertas, tinta, dan segala yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Selanjutnya karya intelektual yang dibuat berdasarkan langkah-langkah yang diuraikan sebelum ini dimaksudkan untuk membangkitkan, mencerahkan dan memperkaya ummat Islam bahkan umat manusia di dunia. Umat islam adalah pembaca atau konsumen hasil produksi intelektual Islam. Bagaimanapun, karena produk itu dihasilkan demi Allah SWT. dan membawa wawasan Islam didalamnya, maka tentu saja yang diharapkan daripadanya lebih daripada sekedar member informasi.
Dari pemaparan ide Islamisasi ilmu pengetahuan yang dipaparkan oleh ketiga tokoh utama penggagas ide Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan berarti upaya penyelamatan umat dari pengaruh serta dampak kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh Barat dimana sangat jauh dari nilai-nilai Islam yang menganggap ilmu itu sumbernya dari wahyu bukan dari akal semata. Islamisasi berarti upaya mengislamkan kembali ilmu-ilmu yang telah tersekulerkan oleh Barat. Oleh karena itu umat Islam perlu berupaya dalam rangka mengklasifikasikan disiplin ilmu-ilmu modern yang sesuai dengan pandangan dunia dan nilai-nilai Islam atau berupaya untuk menyusun dan membangun hubungan disiplin ilmu dengan memberinya dasar baru yang konsisten dengan Islam.
Kritik Atas Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Dalam sebuah Seminar International tentang “Islamic Science Education” yang dilaksanakan pada tanggal 21 Juni 2014 di Aula Prof. Abdullah Sidik Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Wan Daud dalam presentasinya mengatakan Islamisasi itu adalah peneguhan dan penyebaran worldview Islam secara otoritatif. Karena Islamisasi ilmu pengetahuan itu berdasarkan ilmu (hakekat kebenaran) bukan opini tentang kebenaran. Kegagalan umat Islam disebabkan karena kegagalan mereka memahami konsep besar Islam yaitu aqidah dan worldview Islam. Wan Daud menegaskan bahwa kongklusi yang di back up data yang benar (wahyu) adalah benar tetapi kongklusi yang diback up oleh akal semata adalah tidak benar seperti kongklusi Darwin tentang asal manusia. Untuk menjadi khalifah di bumi, maka kita harus paham apa itu bumi. Tentu saja akal tidak bisa menjadi referensi dalam mendapatkan pengetahuan tentang bumi, tapi harus kembali kepada wahyu sebagai sumber ilmu. Pernyataan Wan Daud tersebut sekaligus bantahan terhadap paham sekuler yang mengatakan al-Qur’an hanya sebagai sumber agama bukan sumber ilmu pengetahuan.
Penulis memahami dari pemaparan Prof. Wan di atas, bahwa sebenarnya ilmu itu tidak netral atau bebas nilai tetapi harus selalu dikaitkan dengan sumber ilmu yaitu wahyu. Dan inilah sebenarnya konsep dasar dalam Islamisasi ilmu pengetahuan.
Ide tentang ilmu tidak netral atau bebas nilai, ditentang oleh sekelompok ilmuan seperti, Fazlur Rahman, Perves Hoodbhoy, Abdussalam, Abdul Karim Sourosh, Bassam Tibi dan Muhsin Mahdi yang berpandangan bahwa ilmu itu netral dan bebas nilai. Mereka pun menolak ilmu pengetahuan termasuk sains dapat di-Islamkan. Selain kritik terkait netralitas ilmu, mereka juga mengkritik dan mempertanyakan ide Islamisasi yang dilakukan tanpa landasan ipistemologis yang jelas. Dalam pandangan mereka ide Islamisasi hanya bersifat permukaan dengan hanya memberikan label atau instrument-instrumen Islam.
Fazlur Rahman misalnya mengarahkan kritikannya kepada beberapa konsep Islamisasi sain yang memang kurang kuat dasar argument maupun epistemologisnya, ia mengkritik Ziauddin Sardar karena dianggap kurang memahami tradisi intelektual Islam masa lampau. Ia mengkritik rancangan sistematis Al-Faruqi mengeni langkah-langkah Islamisasi ilmu pengetahuan yang dianggapnya terlalu mekanistis. Fazlur Rahman juga kelihatan sekuler jika dilihat pendapatnya tentang ilmu tidak perlu mencapai tingkat finalitas atau keyakinan. Yang kemudian disanggah oleh Al-Attas bahwa ilu pengetahuan dalam hal-hal yang yakin adalah final, tidak terbuka untuk direvisi oleh generasi kemudian, selain elaborasi dan aplikasi. Penafsiran baru hanya benar terkait dengan aspek-aspek ilmiah al-Qur’an dan fenomena alam.
Selanjutnya kritik Islamisasi sains juga dilontarkan oleh Perves Hoodbhoy seorang doktor dalam bidang fisika nuklir. Ia mengatakan, agama adalah meningkatkan moralitas dan bukan menyatakan fakta-fakta ilmiah secara spesifik. Bahkan lebih tegas ia mengatakan, sains Islami yang eksoterik tidak dimungkinkan dan setiap upaya untuk membangunnya merupakan usaha yang mubazir. Pendapat yang hampir sama sekulernya juga dikemukakan oleh Abdul Salam bahwa , hanya ada satu sains universal, problem-problemnya dan bentuk-bentuknya adalah internasional dan tidak ada sesuatu seperti sains Islam sebagaimana tidak ada sains Hindu, sains Yahudi atau sains Kristen. Pendapat ini menceraikan pandangan-hidup Islam menjadi dasar metafisis kepada sains. Padahal pandangan hidup Islam akan selalu terkait dengan pemikiran dan aktifitas seorang saintis.
Selanjutnya Abdul Karim Soroush berpendapat bahwa, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah tidak logis atau tidak mungkin, alasannya realitas bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Kebenaran untuk hal tersebut bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Oleh sebab itu, sains sebagai proposisi yang benar, bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Para filosof Muslim terdahulu tidak pernah menggunakan filsafat Islam. Tapi Istilah tersebut adalah label yang diberikan oleh Barat (a western Coinage). Lain halnya Bassam Tibi yang menganggap Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai Pribumisasi (indigenization). Islamisasi dipahami sebagai tanggapan dunia ketiga kepada klaim universalitas ilmu pengetahuan Barat. Islamisasi adalah menegaskan kembali nilai-nilai lokal untuk menentang ilmu pengetahuan global yang menginvasi. Tentu saja kesimpulan Bassam Tibi ini tidak tepat, karena Islamisasi bukanlah memisahkan antara lokal menentang universal ilmu pengetahuan Barat. Pandangan Bassam Tibi terhadap Islamisasi ilmu lebih politis dan sosiologis. Padahal munculnya Islamisasi ilmu disebabkan perbedaan pandangan-alam antara Islam dan agama atau budaya dan perdaban global Barat.
Untuk memperkuat ide Islamisasi yang dikritit kurang kuat dasar argument maupun epistemologisnya, alangkah baiknya kita simak presentasi Nirwan Syafrin dalam sebuah seminar, bahwa yang dimaksud Islamisasi adalah bukan Islamisasi teknologi, karena teknologi adalah produk sains. Maka dalam proses Islamisasi sains, Nirwan menyarankan antara lain: Pertama, perlunya afirmasi epistemologi Islam, dimana objek ilmu didasarkan pada realitas, empiris dan non-empiris. Demikian halnya dalam memperoleh ilmu harus berdasarkan wahyu, panca indera dan intuisi. Kedua, perlu koreksi dan revisi terhadap pandangan bahwa sains seolah-olah merupakan produk Barat semata, karena kenyataannya peradaban lain juga mempunyai kontribusi dalam perkembangnan sain. Ketiga, penerapan fiqih dan ushul fikih sains. Fikih sain yang dimaksud adalah beberapa hukum yang mungkin akan dihadapi oleh penggiat sains. Fikih sains ini tentu berbeda dari satu bidang dengan bidang yang lain. Dengan mata kuliah ini, mahasiswa akan dibekali prinsip-prinsip hukum Islam yang paling mendasar terkait dengan profesi yang akan ditekuni.






KESIMPULAN

Konsep dasar dari Islamisasi ilmu pengetahuan adalah mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan agama sehingga ilmu tidak lagi bersifat netral dan bebas nilai. Proses Islamisasi dapat dilakukan dengan meneguhkan dan menyebarkan worldview Islam secara otoritatif, sehingga konsep besar Islam yakni aqidah dan worldview dapat dipahami dengan benar sehingga kebenaran tidak lagi berdasarkan akal semata tetapi kebenaran yang berdasarkan wahyu. Seperti dijelaskan al-Attas bahwa proses ganda dari individu manusia dan pembebasan masyarakat dari paham nasionalistik yang sempit, tradisi mistis dan mitologis, serta kembalinya pada hakikat dan tujuan dirinya yang asli yaitu menjadi hamba Allah yang sadar dan ridha. Wallaahu A’lam.













DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Prof.Dr, Manajemen Pendidikan; Mungatasi Kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta, Prenada Media, 2003. Cet. Ke- 1

Ahmad Syarifin, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Editor: Prof.Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2009, cet. Ke-3.

AM Saefuddin, Prof, Dr, Ir, Islamisasi Sain dan Kampus, (Jakarta, PT. PPA Consultants, 2010), cet. Ke-1

Budi Handrianto, Islamisasi Sains; Sebuah Upaya mengislamkan Sains Barat Modern, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2010) cet. Ke-1

Ibrahim Musthafa,dkk, Al-Mu’jam Al washit, Istambul: Al Maktabah al Islamiyah, Juz I

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowlegde: General Principles and Workplan, diterjemahkan oleh Anas Mahyuddin, Bandung, Pustaka, 1984, cet. Ke-I

Maksudin, Dr, Paradigma Agama dan Sains Nondikotomik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2013, cet. Ke-I

Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani Press, 2008, hlm. 241

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam And Secularism, terjemahan Karsidjo Djojosuwarno, Bandung, Pustaka, 1981. Cet. Ke-I

Wan Mohd Nor Wan Daud, Islamization of Contemporary Knowledge And The Role of The University In The Context of De-Westernization And Decolonization, diterjemahkan oleh Tim INSISTS (Intitute For the Study Islamic Thought & Civilisation) dengan judul “Islamisasi ilmu-ilmu Kontemporer dan Peran Universitas Islam dalam Konteks Dewesternisasi dan Dekolonisasi”, Bogor, UIKA & CASIS-UTM, 2013