journal

Artikel Madzahib Volume 2: SUMBER DARI SEGALA SUMBER KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

PENDAHULUAN
Membangun manusia yang baik dan berakhlak mulia bukanlah satu pekerjaan yang mudah. Sebab satu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi bahwa akhlak sesama Ummat Islam sendiri bukan hanya berbeda pada dasarnya bahkan ada yang bertentangan satu sama lain. Umpamanya, Ummat Islam di Indonesia sendiri tidak bersatu. Membuat organisasi-organisasi dan partai-partai politik yang berbeda. Ada organisasi Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al-Ittihadiyah (pemersatu), Ahmadiyah dan lain-lain. Begitu pula dengan partai politik, tokoh-tokoh Ummat Islam membuat partai politik dan Ummat Islam mengikutinya. Ada partai politik yang dasarnya Islam dan ada pula yang dasarnya Pancasila dan UUD ’45. Seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dasarnya Islam. Sedang Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dasarnya adalah Pancasila dan UUD’45.
Ummat Islam akibatnya pecah belah dan berlomba-lomba berebut kedudukan, harta dan seterusnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kebanyakan Ummat Islam Indonesia tidak mengabdi kepada Allah dan tidak mengikuti firman-Nya. Karena firman Allah sudah jelas menyatakan dalam Q.S.Al-Bayyinah, 98:5 dan Q.S. Al-Imran, 3:103 :


Tujuan dari penelitian mengenai Syirik dan Tauhid ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat akademis dan masyarakat internasional bahwa keadaan Ummat Islam dewasa ini yang sedang pecah belah, tidak bersatu, berebut kedudukan, harta, kurang bersaudara, tidak saling mencintai dan sebagainya dari sifat tercela sebenarnya dapat diatasi dengan jalan atau jika Ummat Islam benar-benar menjauhi perbuatan syirik dan mentauhidkan Allah dengan sungguh-sungguh dari lubuk hati, dan dibuktikan dalam perkataan dan perilaku kapan saja, dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun akan bahagia.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menekankan metodologi kepustakaan. Pengumpulan data dan fakta diadakan melalui penelaahan dan pengkajian dari ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir Al-Qur’an yang paling baik adalah satu ayat ditafsir oleh ayat yang lain. Karena ayat Al-Qur’an semuanya merupakan satu kesatuan yang berkaitan satu sama lain. Kemudian baru yang kedua ayat Al-Qur’an diperjelas oleh Rasulullah dengan Hadisnya dan yang ketiga diperjelas oleh Mujtahid dengan ijtihadnya. Mujtahid atau cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu, baik secara langsung meneliti Al-Qur’an atau secara tidak langsung tetapi penelitiaanya itu membuktikan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an atau ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
Berdasarkan penjelasan di atas maka penelitian ini sifatnya adalah kualitatif dan deskriptif, Oleh karena itu analisisnya juga bersifat kualitatif dengan tehnik penyajian induktif, deduktif dan komparatif serta dengan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu.

E. PEMBAHASAN
Definisi Tuhan
Ditinjau dari sudut Perbandingan Agama tuhan ialah sesuatu, apa atau siapa yang dipentingkan sedemikian rupa oleh manusia, sehingga ia membiarkan dirinya dikuasai oleh yang dipentingkannya itu , ini membuktikan kebenaran ayat Al-Qur’an Q.S. Al-Furqan: 25:43.
Yang dipentingkan oleh manusia itu bermacam-macam, tetapi secara garis besar dapat dikatakan bahwa yang dipentingkan dan diinginkan manusia itu ialah harta, tahta, wanita (seksualitas), kemerdekaan, ketenangan, kebahagian, ilmu pengetahuan, dan yang berkaitan dengannya. Setiap manusia memang mementingkan apa yang telah disebutkan di atas, tetapi kualitasnya ditentukan oleh niat (kata hati) dan perbuatan manusia itu sendiri (HR.Bukhori dan Muslim). Kalau seseorang mementingkan sedemikian rupa, sehingga ia membiarkan diri/hatinya dikuasai oleh hawa nafsu terhadap yang dipentingkannya (sesuatu, seseorang) itu, maka hawa nafsulah tuhannya.
Apa sebenarnya pengertian syirik itu? Syirik adalah menganggap, mengangkat atau menjadikan adanya tuhan (yang maha kuasa) selain Allah dalam perilakunya. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Q.S. Al-Jaatsiyah, 45:23 :

Dalam kaitan ini A.C. Bouquet mengatakan: “The religion or the god of the lover may well be his sweetheart (Anthea who may command him anything)” , Mengapa tuhan pemuda itu adalah kekasihnya? Karena Kekasihnya yang dipentingkannya sedemikian rupa sehingga dia membiarkan dirinya dikuasai olehnya (definisi tuhan). Dan agama pada hakikatnya adalah menjalankan perintah tuhan. Akibat yang semestinya pemuda atau mahasiswa itu menempatkan perintah kekasihnya di atas segala perintah seperti: di atas perintah orang tua, dosen/gurunya serta di atas perintah Allah. Jika orang tua sendiri umpamanya berkata:”Kalau kamu mau kuliah, kuliah yang benar, jangan pacaran dulu, jangan membuang-buang waktu dengan perbuatan yang tidak berguna. Jangan terlalu banyak nonton TV, apalagi TV pornografi, penuh kekerasan dan yang tidak mendidik itu”.
Mengapa Tidak Ada Atheis
A.C.Bouquet mengatakan :”There is no real atheist” and every body must be religious and there is no body who does not have any religion . Oleh karena itu, pilihannya hanya dua yaitu : Pertama, ber-tuhan lebih dari satu, banyak atau syirik dan kenyataannya inilah yang paling umum, berpindah dari satu tuhan ke tuhan yang lain. Kedua ber-tuhan tunggal atau esa dan inilah yang bertauhid itu, inilah yang Muslim, mereka yang meyakini Islam. Atheisme, ber-tuhan nol tidak mungkin.
Sekarang bagaimana dengan tuhan para pejabat, konglomerat dan yang sejenisnya? Tuhan mereka boleh jadi adalah hawa nafsu terhadap harta dan tahta. Mengapa? Karena harta dan tahta yang mereka pentingkan sedemikan rupa sehingga mereka membiarkan dirinya dikuasai oleh keinginan terhadapnya. Kalau sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka bagi mereka sila pertama adalah syirik, seperti Keuangan Yang Maha Kuasaatau hawa nafsu terhadap uang. Money is above all, Money is everything. Terhadap orang yang mempertuhankan hawa nafsu ini seterusnya Allah menegaskan:

“Apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu aspiratif /mendengarkan jeritan dan keluhan rakyat dan menggunakan akalnya? Tidak ada mereka kecuali seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya “ (Q.S.Al-Furqan, 25:44)
Mengapa ? Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah, 2:6-7 :


Sedang di dalam surah Al-Baqarah, ayat 65 Allah menegaskan

” ... Jadilah kamu monyet-monyet yang hina”. Dari pernyataan Allah tersebut dapat ditegaskan bahwa monyet itu ada dua macam yaitu monyet yang hina dan monyet yang “mulia”. Monyet yang “mulia” adalah monyet yang asli, yang jika masuk kebon orang, dia makan tanaman orang dan berbuat seenaknya, tetapi dia tidak bersalah dan tidak jahat karena monyet tak punya akal dan hati nurani. Sedang monyet yang hina adalah manusia yang punya akal dan hati nurani tetapi tak berfungsi untuk menguasai dan mengendalikan hawa nafsu dan instingnya. Dia berbuat jahat/korupsi, kolusi, nepotisme, munafik, fasik, zalim dan sebagainya. “Mengapa ? Karena dia jahil atau bodoh kuadrat. Dia tidak sadar bahwa perbuatan jahatnya itu sebenarnya merusak dan menghancurkan orang lain, masyarakat, dan lingkungannya dalam hubungan horizontal. Sedang dalam hubungan vertikal dia telah melanggar perintah Allah dan berbuat dosa. Kemudian dia tidak sadar pula bahwa sebenarnya dia tidak cerdas (bodoh) spiritualnya, karena perbuatan jahatnya itu menghancurkan dan menganiaya dirinya sendiri. Sebab pepatah berkata : Bersih pangkal sehat, berarti kotor pangkal penyakit. Dia tidak sadar bahwa perbuatan jahatnya itu sebenarnya mengotori akal dan hati nuraninya sendiri. Oleh karena itu, sebenarnya dia membuat penyakit pada dirinya sendiri. Penyakit psikosomatik atau penyakit badan yang disebabkan oleh masalah-masalah kejiwaan, yang menjadi salah satu sebab yang pokok yang membuat orang stres, penyakit darah tinggi, jantung, dan stroke .
Sila kedua, Syari’ah dan bagian-bagiannya tidak berdaya. Apabila manusia telah dikuasai dan diperbudak oleh hawa nafsu atau tuhan palsunya sedemikan rupa, maka akibat yang semestinya Syari’ah dan bagian-bagiannya tidak berdaya, (Rukun Iman, Rukun Islam, Muamalah, Undang-undang, aturan, tata-tertib, janji, sumpah jabatan, sumpah pegawai, disiplin, dan norma-norma yang mengatur semua aspek kehidupan) tidak akan berdaya, tidak berarti, dan tidak terwujud dalam kenyataan hidup sehari-hari, dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sila ketiga, Peyimpangan dan Penyelewengan di mana-mana. Akibat yang semestinya dari hal tersebut di atas tentu akan terjadi penyimpangan dan penyelewengan di berbagai aspek, seperti penyimpangan di bidang pendidikan, jual beli ijazah untuk menjadi anggota DPR, penyimpangan di bidang moral yaitu TV pornografi, kekerasan dan tidak mendidik. Penyimpangan di bidang ekonomi yaitu laporan pajak dua macam yaitu yang palsu dan yang benar, penyimpangan di bidang hukum jual beli keadilan dan sebagainya. Dan akhirnya tegaklah hukum rimba di dalam kehidupan. Siapa yang kuat, yang kuasa dialah yang benar tidak dapat dielakkan lagi karena situasi dan kondisi serta sistemnya sudah salah, atau tidak Islami
Sila keempat, Maksiat merajalela. Tindak lanjut dari penyimpangan dan penyelewengan di atas adalah kejahatan dan maksiat merajalela diberbagai aspek kehidupan.Terjadilah kemerosotan moral (demoralisasi), hilangnya harkat dan martabat manusia (dehumanisasi), penghisapan manusia atas manusia, korupsi, kolusi, nepotisme, melahap uang subhat, sogok halus, dana taktis, perpecahan, pemaksaan, pembunuhan, ketidak adilan, pemerkosaan, iklan cabul, gambar porno, sekularisasi, westernisasi dan yang sejenisnya.
Sila kelima, Umat manusia teraniaya. Akhirnya yang menanggung semua akibatnya ini adalah rakyat atau umat manusia. Umat manusia menderita dan teraniaya dalam semua aspek kehidupannya, menderita di bidang ekonomi, rakyat miskin, banyak pengangguran, menderita di bidang sosial, rakyat berada dalam lingkungan yang immoral, rakyat menderita di bidang pendidikan, rakyat dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan yang tidak baik, menderita di bidang seni, karena seni bukan sebagai alat dakwah dan pendidikan, tetapi sebagai gelanggang seksualitas dan merangsang nafsu birahi, menderita di bidang politik karena kekuasaan bukan sebagai alat amar ma’ruf dan nahi mungkar, tetapi disalahgunakan menjadi alat untuk memperkaya diri, dan menghalalkan segala cara asal tujuan tercapai. .
Perbuatan syirik atau tidak mengesakan Allah Yang Maha Esa ini sebenarnya telah terjadi sejak dahulu, sejak zaman Adam dan Hawa. Oleh karena itu, Allah telah terus menerus dan berulang-ulang memberi peringatan melalui Rasul-rasul-Nya supaya manusia jangan mengabdi kecuali kepada Allah dan jangan membiarkan diri dikuasai oleh hawa nafsu.
Mengapa perbuatan syirik yang menjadi sumber dari segala sumber kejahatan dan kerusakan di muka ini, bukan syetan dan iblis dan bukan pula hawa nafsu ? Syetan dan iblis bukan sumber dari segala sumber kejahatan dan kerusakan di bumi ini karena syetan hanyalah aktor (pemain atau pelaku utama) dalam menggoda dan menyesatkan manusia. Syetan dan iblis tak berdaya untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang ikhlas.
Allah berfirman dalam Q.S. Shaad, 38 :82 - 83 :

Mengapa syetan tak berdaya untuk menggoda/menyesatkan orang-orang yang ikhlas ? Karena kata ikhlas berarti murni, maksudnya : segala sesuatu yang diperbuat oleh orang yang ikhlas itu murni (100 %) karena Allah (firman Allah) bukan karena keinginan (hawa nafsu) semata-mata dan bukan pula karena dorongan syetan. Umpamanya, jika ditanya: “Mengapa engkau makan ?” dia menjawab “aku makan karena Allah”; orang yang ikhlas makan bukan karena lapar. Alasannya : pertama makan karena lapar tidak menjadi ibadah, dan tidak ada pahala di sisi Allah. Kedua, satu-satunya penyebab makan bagi orang yang ikhlas atau yang mendapat hidayah iman adalah ridha Allah bukan Iapar. Orang yang puasa itu lapar umpamanya tetapi dia tidak makan. Mengapa? Karena Allah tidak ridha. Lapar adalah hidayah insting supaya makan. Hidayah insting adalah di bawah hidayah iman. Oleh karena itu hidayah iman harus didahulukan daripada hidayah insting. Begitu pula dengan pekerjaan atau hal yang lain. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh orang yang ikhlas di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan yang bagaimanapun adalah karena ridha Allah, bukan karena yang lain. Itulah sebabnya mengapa syetan bukan sumber dari segala sumber perbuatan jahat dan kerusakan di bumi ini.
Hawa nafsu juga bukan sumber dari segala sumber kejahatan. Mengapa? Karena hawa nafsu itu diperlukan oleh manusia. Manusia memerlukan hawa nafsu untuk makan, untuk tidur dan hawa nafsu seksual umpamanya. Kalau manusia tidak memiliki semua keinginan (hawa nafsu) tersebut di atas, tentu manusia itu berusaha atau berobat supaya kembali normal/memilikinya. Hawa nafsu itu tidak merusak dan tidak menjadi sumber kejahatan, jika manusia dapat menguasai dan mengendalikannya. Hawa nafsu itu menjadi sumber dari segala sumber kejahatan dan kerusakan di bumi ini jika hawa nafsu tersebut dipertuhankan atau dipentingkan sedemikian rupa sehingga manusia itu membiarkan dirinya dikuasai oleh hawa nafsu terhadap tiga ”ta” (harta, tahta, wanita atau seksualitas dan yang sejenisnya). Akibat yang semestinya tentu firman, aturan atau Syari’ah Allah tak berdaya lagi. Perbuatan yang seperti ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya disebut syirik dan orangnya disebut musyrik. Dan itulah sebabnya mengapa Allah menegaskan berkali-kali dalam Q.S.An-Nisa’, 4:48 :

Mengapa mereka berani mempertuhankan hawa nafsu mereka atau berbuat jahat ? Mereka berkata (beralasan):





(Q.S.Al-Jaatsiyah, 45:24) dan (Q.S. Al-Isra, 17: 49-52).
Sebaliknya, apakah sumber dari segala sumber kebaikan dan akhlak mulia itu ? Sumber dari segala sumber akhlaknya mulia adalah tauhid dan dalam operasional (cara kerjanya) adalah dengan benar-benar bersyahadat. Mengapa ? Sebab tauhid berarti mengesakan yaitu menjadikan Allah satu-satunya Tuhan. Satu­satunya yang dipentingkan sedemikian rupa, sehingga manusia itu membiar-kan dirinya hanya dikuasai oleh Allah (sunnatullah). Baik sunnatullah yang tertulis (firman Allah) atau Al-Qur’an maupun sunnatullah yang tidak tertulis. Sunnatullah yang tertulis adalah tulisan atau catatan tentang Allah sendiri dan alam semesta. Sedang sunnatullah yang tidak tertulis adalah kenyataan yang ada di alam semesta ini seperti hukum Allah dalam bidang biologi, fisika, kimia, elektro, kedokteran, astronomi dan sebagainya. Hubungannya satu sama lain adalah saling menjelaskan, saling memperkuat dan saling membantu.
Apakah syarat menjadi seorang Muslim?
Siapa yang telah mentauhidkan Allah berarti dia telah bersyahadat. Bersyahadat adalah asas dan syarat yang paling pokok untuk menjadi orang Islam. Mengapa Tauhid atau bersyahadat benar-benar menjadi sumber dari segala sumber akhlak mulia ? Alasannya adalah sebagai berikut: Pertama, bersyahadat berarti bersaksi, berjanji dan berbai’at dari lubuk hati yang terdalam, dengan perkataan dan perbuatan untuk meniadakan tuhan, atau menghabiskan tuhan palsu. Setiap Muslim bersyahadat, menyatakan : “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan”, maksudnya tidak ada yang saya pentingkan sedemikian rupa sehingga saya membiarkan diri saya dikuasai olehnya, maksudnya, saya tidak mau dikuasai oleh tuhan palsu atau hawa nafsu terhadap tiga “ta” (harta, tahta, wanita (seksualitas) yang mengakibatkan egoisme, arogansi, munafik, zalim, fasik, iri hati, sombong, dan sifat-sifat tercela lainnya.
Bagaimana perwujudannya dalam kehidupan ? Jika seseorang telah benar-benar bersyahadat, maka dialah sebenarnya yang betul­betul bertauhid. Karena untuk itu dia harus berjihad untuk menjadi orang yang baik dan berakhlak mulia. Mengapa ? Sebab orang-orang yang benar-benar bersyahadat seperti yang telah dijelaskan di atas telah berjihad menghabiskan semua tuhan-tuhan palsu, mereka tidak mau lagi membiarkan diri dikuasai oleh hawa nafsu, karena mengakibatkan berbagai macam sifat dan perbuatan tercela atau perbuatan syirik.
SISTEM ISLAM
Tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari untuk menjadi orang-orang yang benar-benar bersyahadat dan menghabiskan tuhan-tuhan palsu itu tidak mudah. Karena banyak tantangan, godaan dan ujiannya. Oleh karena itu bersyahadat juga memiliki makna yang luas dan mencakup segala aspek kehidupan. Sebab bersyahadat berarti membiarkan diri dikuasai atau patuh kepada Allah (Sunnatullah) baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dengan demikian setiap Muslim yang bersyahadat menjalankan dan membumikan Al-Qur’an, masuk Islam secara utuh dan berada dalam satu sistem Islam.
System is a group of things working together in a regular relation . (Sistem adalah satu kumpulan barang atau bagian-bagian yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan, karena bekerja serempak dalam satu hubungan yang teratur), seperti satu mobil yang terdiri dari bagian-bagian, antara lain : ada ban, pentil, bensin, oli, platina, dynamo, radiator, stir, rem, dan sebagainya. Ini semua satu sama lain tidak boleh dipisahkan, semua bagian-bagian harus baik, tidak ada yang rusak, pada tempatnya masing-masing, bekerja serempak dalam hubungan yang teratur, baru mobilnya berjalan dengan baik. Satu saja diantara bagian-bagian itu rusak, seperti rem atau ban nya saja yang rusak atau tidak ada, maka sudah mogok mobilnya.
Demikian pula dengan Islam. Islam itu berada dalam satu system dan Ummat Islam harus berada dalam system atau mengikuti system Islam itu. Sistem Islam terdiri dari :
I. Aqidah atau Rukun Iman
II. Syari’ah, yaitu norma, aturan dan hukum yang mengatur Muslim dalam hubungan vertikal, dengan Allah dan dalam hubungan horizontal, dengan makhluk. Pada garis besarnya Syari’ah terdiri dari :
1. a. Ibadah dalam arti khusus adalah Rukun Islam.
b. Ibadah dalam arti luas, adalah segala kegiatan dan perilaku yang memenuhi 3 kriteria ibadah yaitu : 1) Ikhlas karena Allah sebagai titik tolak, 2) Radhiatan Mardhiah sebagai titik tuju, 3) Jalan hidup yaitu amal shaleh
2. Mu’amalah yaitu
a) Mu’amalah dalam arti khas adalah hukum ekonomi, hukum waris, hukum nikah, dan lain sebagainya, b) mu’amalah dalam arti luas adalah hukum pidana, kenegaraan, politik, (perang dan damai), sosial, pendidikan, kekeluargaan, olah raga, seni dan lain sebagainya.
III. Akhlak, yaitu norma dan aturan yang mengatur perilaku seorang Mukmin. Pada garis besarnya terdiri dari: 1. Akhlak seorang Muslim dalam hubungan vertikal, kepada Allah, 2. Akhlak seorang Muslim dalam hubungan horizontal kepada Rasulullah dan, 3. Akhlak seorang Muslim terhadap sesama Muslim dan non Muslim.
IV. Akhlak seorang Muslim terhadap lingkungan.
V. Akhlak seorang Muslim terhadap Makhluk ghaib .
Demikian sistem Islam dengan bagian atau komponen-komponennya. Satu sama lain saling berhubungan bekerja serempak, harus dalam keadaan baik dan teratur. Jika satu bagian saja dari system Islam yang dijalankan seorang Muslim itu rusak, maka ke-Islaman seorang Muslim itu akan mogok, atau tidak baik dengan sendirinya. Allah SWT berfirman:

“Dan telaah atau teliti dulu apa diwahyukan atau yang ada dalam kitab Al-Qur’an baru dirikan shalat. Sesungguhnya shalat yang benar-benar itu mencegah perbuatan fahsya dan mungkar, karena sesungguhnya dengan mengingat Allah itu besar manfaatnya, dan Allah Maha Melihat apa yang sebenarnya kamu kerjakan.” (Q.S. Al-‘Ankabut, 29:45)
Dari tafsir ayat di atas Allah menegaskan bahwa Yang Pertama harus kita miliki sebelum mendirikan shalat adalah ilmu Al-Qur’an. Ilmu Al-Qur’an berkaitan dengan semua disiplin ilmu, baik ilmu/ayat Tauhid, ibadah, shalat, puasa, zakat, haji maupun ayat/ilmu fisika, astronomi, kedokteran, biologi, politik, ekonomi, sosial, seni, olah raga, budaya, ilmu jiwa , dan sebagainya. Demikian luasnya ilmu Al-Qur’an yang harus kita dalami sesuai dengan kemampuan dan bidang kita masing-masing. Sesudah itu baru Yang Kedua, mendirikan shalat, bukan hanya mengerjakan shalat. Oleh karena itu mendirikan shalah itu tidak mudah dan tidak sama dengan mengerjakan shalat. Sebab mendirikan shalat berarti mendirikan :1. Do’a, 2. Ucapan, 3. Pernyataan, 4. Janji, dan 5. Gerakan sholat selama 24 jam. Dengan demikian setiap Muslim yang benar-benar mendirikan sholatnya, tentu mereka akan berjihad untuk mendirikan atau mewujudkan semua doa, ucapan, pernyataan, janji dan gerakan sholatnya dalam kenyataan hidup sehari-hari, dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun .
Dari uraian di atas dapat dipastikan:
1. Jika Mushallin benar-benar mendirikan shalatnya, maka mushallin akan mencegah dirinya dari perbuatan fahsya dan munkar, dan hatinya menjadi tenang. Karena mushallin mendirikan sholat atau berjuang mengingat Allah selama 24 jam, selama masih bernafas dan sadar, Dan dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Allah berfirman :


“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka mengabdilah padaKu dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku. Orang-orang yang beriman hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingat Allah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang dan tenteram. (Q.S.Thoha, 20:14) dan (Q.S.AR-Ra’d, 13:28)
2. Bersyahadat tidak dapat dipisahkan dengan mendirikan sholat, karena dalam sholat ada syahadat, begitu pula dengan mendirikan sholat tidak bisa dipisahkan dengan bersyahadat, sebab tanpa mendirikan sholat bersyahadatnya tidak benar. Selanjutnya bersyahadat dan mendirikan sholat tidak bisa dipisahkan dengan bershiyam (puasa), sebab jika seorang Muslim tidak bershiyam maka syahadat dan sholatnya tidak benar. Begitu pula sebaliknya dengan bershiyam tidak bisa dipisahkan dengan bersyahadat dan sholat. Sebab jika tidak bersyahadat dan tidak mendirikan sholat, maka shiyamnya tidak benar. Begitulah seterusnya bersyahadat, mendirikan sholat dan bershiyam tidak bisa dipisahkan dengan Rukun Iman. Sebab jika seorang Muslim tidak beriman kepada Rukun Iman maka syahadat, sholat dan shiyamnya itu tidak benar. Begitu pula sebaliknya, sebab jika seorang Muslim tidak bersyahadat, tidak mendirikan sholat dan tidak bershiyam maka Rukun Imannya tidak benar. Begitulah seterusnya hubungan antara bersyahadat, mendirikan sholat, bershiyam dan beriman kepada Rukun Iman tidak bisa dipisahkan dengan syari’ah dan bagian-bagiannya. Sebab jika seorang Muslim tidak bersyari’ah maka syahadat, sholat, shiyam dan Rukun Imannya tidak benar. Begitu pula sebaliknya, sebab jika seorang Muslim tidak benar-benar bersyahadat, mendirikan sholat, bershiyam dan beriman kepada Rukun Iman maka bersyari’ah nya tidak benar. Akhirnya besyahadat, mendirikan sholat, bershiyam, beriman kepada Rukun Iman dan bersyari’ah tidak bisa dipisahkan dengan Akhlak dan bagian-bagiannya. Sebab jika seorang Muslim tidak berakhlak ( tidak berbuat baik dan tidak berakhlak mulia) maka syahadat, sholat, puasa, rukun Iman dan syari’ahnya tidak benar. Begitu pula sebaliknya, Sebab jika seorang Muslim tidak bersyahadat, tidak mendirikan sholat, tidak bershiyam, tidak beriman kepada Rukun Iman dan tidak bersyari’ah maka Akhlaknya tidak baik.
Demikianlah sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Islam itu berada dalam satu sistem dengan bagian-bagiannya, Jika satu saja dari bagian itu tidak baik atau mogok, maka ke-Islaman seorang Muslim itu akan mogok atau tidak baik dengan sendirinya, Itulah sebabnya mengapa Allah menghimbau atau memerintahkan supaya Ummat Islam itu masuk, dan menyatu kedalam Islam secara utuh Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah, 2 : 208

LIMA SEBAB AKIBAT DUNIA ISLAM SEJAHTERA
Tetapi walaupun demikian tauhid atau bersyahadat dalam operasionalnya adalah fondasi bagunan Islam. Sebab bersyahadat adalah syarat untuk masuk kedalam Islam atau inti Islam. Dengan demikian bersyahadat berarti tidak bisa dipisahkan dengan Islam secara keseluruhan atau dengan Sistem Islam itu dan sebaliknya. Dan itu pulalah sebabnya mengapa tauhid dan bersyahadat itu menjadi sumber dari segala sumber kebaikan dan akhlak mulia dan Sila Pertama dari 5 Sebab Akibat Dunia Islam Sejahtera. Oleh karena itu setiap Muslim yang benar-benar bertauhid dan bersyahadat itu selalu ingat Allah sebagai kekasih yang tercinta, ingat dengan hati, dengan perbuatan dan dengan perkataannya, ingat firman-Nya dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan yang bagaimanapun selalu terbayang tanda kebesaran-Nya. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Imran, 3:191 Tafsir bebasnya sebagai berikut: ”Mereka itulah orang-orang yang selalu ingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan yang bagaimana saja selalu ingat Allah. Mau tidur ingat Allah dia berdoa, mau masuk kamar mandi dan selesai mandi dia berwudhu dan berdoa, mau makan ingat Allah, mau berangkat kerja dia berdoa, di perjalanan ke kantor pakai mobil, disalip orang dia sabar karena dia ingat Allah, firman Allah dalam Q.S. Al-Anfal, 8:46 :”Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Karena tanda kebesaran Allah sudah masuk ke dalam lubuk hatinya yang terdalam, ke dalam sumsum dan pori-porinya serta Allah dan firman-Nya sudah hidup dalam diri, jiwa, perkataan, dan perbuatannya maka nafasnya selalu Allah..,. Allah..... Allah .... Allah... Allah dengan asmaul husna-Nya yang membuat dirinya merasa tenang, tenteram, tenang dan damai. Apa kata syetan terhadap orang yang seperti ini dalam Al-Qur’an?

Apabila demikian halnya tentu akibat yang semestinyaSila Kedua adalah Syari’ah dan bagian-bagiannya, khususnya hukum dijalankan dengan ikhlas. Mengapa? Karena hati orang tersebut telah ikhlas membiarkan dirinya dikuasai oleh Allah, ikhlas karena Allah dalam menjalankan berbagai ibadah, Rukun Islam, Mu’amalah norma, aturan, tata tertib, janji, sumpah dan sebagainya. Ikhlas artinya, murni karena mengharap ridho Allah. Hatinya tidak dikotori oleh rasa sombong, riya, takabur, hasad, dengki, tidak semata-mata ingin harta, tahta, dan wanita, tidak dikuasai oleh gengsi ingin dipuji dan yang sejenisnya. Seorang yang telah bersyahadat hanya mengharap segala sesuatu dengan niat dan dalam batas-batas yang diridhoi Allah. Sedang orang yang tidak ikhlas adalah orang-orang yang hatinya tidak murni, ada campuran atau syirik dalam bahasa al-Qur’annya. Jadi belum benar­benar bersyahadat. Sebab itu ia masih mengharapkan dan menerima segala sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Inilah faktor utama mengapa terjadi berbagai maksiat dan kejahatan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Keadaan rohani (akal dan hati) hamba Allah yang ikhlas seperti tersebut di atas tentu akan penuh dengan tanggung jawab. Dan sebagai akibat yang semestinya tentu Sila Ketiga, Rencana dan Program akan berjalan sebagaimana mestinya. Rencana dan program itu tentu mencakup semua aspek kehidupan, atau Syari’ah dan bagian-bagiannya.
Sila Keempat, Akhlak Mulia dan bagian-bagiannya terwujud dalam kenyataan hidup. Konsekuensinya sesuai dengan sunnatullah, dan hukum sebab akibat tentu kebaikan dan Akhlak Mulia (rasa kasih sayang, persamaan, kemanusiaan, kemerdekaan, persatuan, tolong menolong, musyawarah, keadilan sosial, rasa senasib dan sepenanggungan, hak asasi manusia, kesadaran hukum, ukhuwwah imaniyah, kebebasan yang bertanggung jawab, keteladanan dan sebagainya) akan terwujud dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sila Kelima, Dunia Islam Sejahtera. Jika demikian halnya, maka apa yang menjadi tujuan kita bersama, yang kita dambakan selama ini yaitu masyarakat adil makmur, secara spritual dan material, dalam suasana yang aman, tertib, dan damai di bawah ampunan dan ridho Allah Yang Maha Pengampun akan tercapai dengan sendirinya .
Sekarang apa strategi untuk membangkitkan kembali Dunia Islam yang benar-benar bertauhid dan bersyahadat sehingga menjadi sumber dari segala sumber akhlak mulia ini. Strategi kita harus melaluli pendidikan, system pendidikan yang Islami yaitu pendidikan yang memiliki unsur-unsur dasar pendidikan (dasar pendidikan, subjek pendidikan, objek pendidikan, materi pendidikan, metode pendidikan, alat pendidikan, waktu pendidikan, dan evaluasi pendidikan) yang benar-benar sesuai dengan tauhid dan syahadatain. Dan kita harus yakin bahwa bangkitnya Dunia Islam adalah satu keharusan sejarah lambat atau cepat itu tergantung pada jihad kita. Sebab Allah tidak akan merubah keadaan satu kaum, negeri atau bangsa sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Allah berfirman Q.S. Ar-Rad, 13:11 :



KESIMPULAN
Dari uraian yang telah di jelaskan dalam pembahasan secara panjang lebar akhirnya dapat diberikan kesimpulan bahwa benar-benar bertauhid dan bersyahadat dalam operasionalnya adalah sumber dari segala sumber perbuatan baik dan akhlak mulia sebab :
1. Setiap Muslim yang telah benar-benar bersyahadat terus berjihad meghabiskan semua tuhan-tuhan palsu. Karena tuhan-tuhan palsu adalah penyebab dari semua perbuatan syirik, baik syirik kecil (halus), syirik besar maupun syirik yang sangat besar.
2. Setiap Muslim yang benar-benar bersyahadat pasti berjihad, menjalankan dan membumikan Al Qur’an, masuk kedalam Islam secara utuh dan berada dalam sistem Islam. Dengan demikian rohani dan jasmani setiap Muslim yang benar-benar bersyahadat telah masuk dan menyatu dengan semua bagian-bagian dari sistem Islam yaitu masuk dan menyatu dengan Rukun Iman, Syari’ah dan Akhlak, dan bagian-bagiannya masing-masing. Dan sebaliknya, semua bagian-bagian dari sistem Islam ( yang terdiri dari Aqidah/Rukun Iman, Syari’ah, Akhlak dan bagian-bagiannya masing-masing) telah masuk dan menyatu kedalam rohani dan jasmani setiap Muslim yang benar-benar bersyahadat. Dengan kata lain setiap Muslim yang benar-benar bersyahadat telah masuk dan menyatu dengan semua aspek kehidupan, lahiriah dan rohaniah, dunia dan akhirat, kapan saja, dimana saja dan dalam keadaan yang bagaimanapun, dalam dua arus bolak balik dan dalam hubungan yang teratur.
3. Akibat yang semestinya. Sila Pertama dari Lima Sebab Akibat Dunia Islam Sejahtera adalah Setiap Muslim berjihad untuk benar-benar bertauhid, bersyahadat dan ber Rukun Iman dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan yang bagaimanapun, Sila Kedua, Syariah dan bagian-bagiannya termasuk hukum dijalankan dengan ikhlas . Sila Ketiga,Program dan Rencana berjalan sebagaimana mestinya, Sila Keempat,Akhlak Mulia (Ukhuwah Imaniah, kasih sayang dalam penderitaan, persatuan, keadilan, kemanusiaan, musyawarah, tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, amanah, menepati janji dan sebagainya). terwujud dalam kenyataan hidup sehari-hari, Sila Kelima, Dunia Islam Yang Sejahtera, adil dan makmur, lahiriah dan rohaniah, dunia dan akhirat dalam ampunan dan ridha Allah akan tercapai dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an al Karim
Al Hadist
Abd. Al Baqi, Muhammad Fuad, Al Mu’jam al-Mufahras li Alfazh, Al-Qur’an Karim, Dar al-Fikr, Beirut,1987.
Bouquet, A.C, Comparative Religion, diterbitkan oleh Biro Kemahasiswaan IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, 1969.
Hornby,A.S.Gatenby, EX Wakefield, H., The Advancel Learner’s Dictionary of Current English, Oxford: The English Language Book Society and University Press, Second Edition, 1972.
Muhammad Mahmud Abdul Kadir, Biologi Iman(Biyulujiyyatul Al-Iman) terjemahan Rusydi Malik, Al-Hidayah, cet.3, Jakarta, 1983.
Nainggolan, Z.S, Prof.Dr.MA, Inilah Islam, Cetakan Kedelapan, Penerbit Kalam Mulia, Jakarta, 2010.
Nainggolan, Z.S, Prof.Dr,MA, Pandangan Cendekiawan Muslim tentang Moral Pancasila, Moral Barat dan Moral Islam, Kalam Mulia, Jakarta,1998.
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Cet.3.1988.