journal

Artikel Madzahib Volume 2: ISBAL PERSPEKTIF HUKUM ISLAM ( STUDI KOMPARASI TEKSTUAL DAN KONTEKTUAL )

PENDAHULUAN
Definisi Isbal
Isbal secara bahasa adalah masdar dari asbala, yusbilu, isbaalan, yang bermakna irkhaa-an, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Arabi rahimahullah dan selainnya adalah; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.
Dalil-Dalis Isbal
Pertama :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, bahawa beliau berkata: Apa yang terjulur ke bawah melebihi kedua mata kaki dari pakaian, maka ia berada di neraka.
Imam al-Bukhari meletakkan hadis ini pada bab:
بَاب مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ
Artinya :Bab “ Apa yang menjulur ke bawah (dari pakaian) sehingga melebihi mata kaki, maka ia di neraka”.
Kedua :
وعن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين
Artinya : Dari al-Mughirah B. Syu'bah, beliau melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam mendatangi Sufyan dan menahannya, lalu berkata: Wahai Sufyan, janganlah engkau melakukan isbal, kerana Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mencintai orang-orang yang isbal.
Ketiga :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu Ia berkata : “Ada tiga golonganmanusia pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wata’alatidak berbicara kepada mereka, tidakmemandang ke arah mereka, juga tidakmenyucikan mereka. Untuk mereka azabyang pedih.” Kata-kata ini diulang sebanyak tiga kali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sampai-sampai para sahabat bertanya, “Siapakah ketiga golongan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Orang musbil, orang yang selalu mengungkit-ungkit kebaikan, dan orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu.”
Keempat :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ
Arinya : Dari Ibnu 'Umar, katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata: Siapa saja yang menjulurkan (melabuhkan) pakaiannya karena sombong, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan melihatnya dengan pandangan kasih sayang pada hari kiamat. Maka Ummu Salamah pun bertanya: Apa yang perlu dilakukan oleh para wanita dengan hujung pakaiannya? Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab: Hendaklah mereka menurunkan (melabuhkannya) satu jengkal dari pertengahan betis. Ummu Salamah berkata: Jika begitu, sudah tentu telapak kaki mereka masih akan tersingkap (kelihatan). Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun menerangkan: Sekiranya begitu, hendaklah mereka menurunkannya satu hasta dan tidak boleh lebih dari itu. .
Kelima :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ
Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rosulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat”, Abu Bakar mengeluh: “(Wahai Rosulullah) Sesungguhnya salah satu sisi sarung (pakaian bawah)ku (melorot) turun (melebihi batas mata kaki) kecuali kalau aau (senantiasa) menjaga sarungku dari isbal”. Rosulullah SAW bersabda: “Engkau bukan yang termasuk melakukannya karena sombong.
Keenam :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أزرة المؤمن إلى نصف الساق ولا حرج أو قال لا جناح عليه فيما بينه وبين الكعبين وما كان أسفل من ذلك فهو في النار ومن جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه يوم القيامة
Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, pakaian seseorang mu'min (lelaki) itu menjulur turun sehingga ke pertengahan betisnya. Dan tidaklah berdosa atau tidak mengapa (jika menurunkannya sehingga pada bahagian kaki) di antara pertengahan betis dengan kedua mata kaki. Ada pun bahagian yang lebih rendah dari itu (iaitu turun melepasi mata kaki), maka tempatnya di neraka. Dan sesiapa sahaja yang menjulurkan pakaiannya dengan kesombongan, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan memandangnya dengan pandangan kasih sayang .
Ketujuh :
و إياك و إسبال الإزار فإن إسبال الإزار من المخيلة و لا يحبها الله
Artinya : Dan berhati-hatilah kamu terhadap perbuatan mengisbalkan pakaian, kerana perbuatan tersebut termasuk kesombongan dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mencintai kesombongan.
Kedelapan :
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَخَسَفَتْ الشَّمْسُ وَنَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ يَجُرُّ ثَوْبَهُ مُسْتَعْجِلًا حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ
Dari Abi Bakrah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Gerhana matahari tiba-tiba berlaku di ketika kami sedang bersama-sama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Maka beliau pun berdiri lalu menyeret kain luarnya yang menyelimuti tubuhnya dengan tergesa-gesa sehingga beliau sampai masuk ke dalam masjid.

Kesembilan :
بينما رجل يجر إزاره من الخيلاء خسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة.
“Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena sombong. Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta-ronta karena tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi”.
Kesepuluh :
Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu’anhu beliau berkata:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’”
PENAFSIRAN ISBAL PERSPEKTIF PARA ULAMA
Mazhab Maliki
Ibnu ‘Abdil Barr berkata :
وقد ظن قوم أن جر الثوب إذا لم يكن خيلاء فلا بأس به واحتجوا لذلك بما حدثناه عبد الله بن محمد بن أسد …. قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : «من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة» فقال أبو بكر: إن أحد شقى ثوبي ليسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه،فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «إنك لست تصنع ذلك خيلاء» قال موسى قلت لسالم أذَكر عبد الله من جر إزاره،قال لم أسمعه إلا ذكر ثوبه،وهذا إنما فيه أن أحد شقى ثوبه يسترخي، لا أنه تعمد ذلك خيلاء، فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم: «لست ممن يرضى ذلك» ولا يتعمده ولا يظن بك ذلك
Artinya : “ Sebagian orang menyangka bahwa menjulurkan pakaian jika tidak karena sombong itu tidak mengapa. Mereka berdalih dengan riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Asad (beliau menyebutkan sanadnya) bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat’. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’. Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya‘ .
Abul Walid Sulaiman Al Baaji berkata :
وقوله صلى الله عليه وسلم الذي يجر ثوبه خيلاء يقتضي تعلق هذا الحكم بمن جره خيلاء، أما من جره لطول ثوب لا يجد غيره، أو عذر من الأعذار فإنه لا يتناوله الوعيد… قوله صلى الله عليه وسلم: «إزارة المؤمن إلى أنصاف ساقيه»، يحتمل أن يريد به والله أعلم أن هذه صفة لباسه الإزار؛ لأنه يلبس لبس المتواضع المقتصد المقتصر على بعض المباح، ويحتمل أن يريد به أن هذا القدر المشروع له ويبين هذا التأويل قوله صلى الله عليه وسلم :لا جناح عليه فيما بينه وبين الكعبين يريد والله أعلم أن هذا لو لم يقتصر على المستحب مباح لا إثم عليه فيه ، وإن كان قد ترك الأفضل
“Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong‘ ini menunjukkan hukumnya terkait bagi orang yang melakukannya karena sombong. Adapun orang yang pakaiannya panjang dan ia tidak punya yang lain (hanya punya satu), atau orang yang punya udzur lain, maka tidak termasuk ancaman hadits ini. Dan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Kainnya orang mu’min itu sepertengahan betis’, dimungkinkan –wallahu’alam– inilah deskripsi pakaian beliau. Karena beliau lebih menyukai memakai pakaian ketawadhu’an, yaitu yang seadanya, dibanding pakaian lain yang mubah. Dimungkinkan juga, perkataan beliau ini menunjukkan kadar yang masyru’ [baca: yang dianjurkan]. Tafsiran ini diperjelas oleh sabda beliau yang lain: ‘Tidak mengapa bagi mereka untuk mengenakan antara paha dan pertengahan betis’. Beliau ingin mengatakan -wallahu’alam- bahwa kalau tidak mencukupkan diri pada yang mustahab [setengah betis], maka boleh dan tidak berdosa. Namun telah meninggalkan yang utama” .
Madzhab Hambali
Abu Naja Al Maqdisi berkata :
ويكره أن يكون ثوب الرجل إلى فوق نصف ساقه وتحت كعبه بلا حاجة لا يكره ما بين ذلك
Makruh hukumnya pakaian seorang lelaki panjangnya di atas pertengahan betis atau melebihi mata kaki tanpa adanya kebutuhan. Jika di antara itu [pertengahan betis sampai sebelum mata kaki] maka tidak makruh”
Ibnu Qudamah Al Maqdisi berkata :
ويكره إسبال القميص والإزار والسراويل ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بَرفْع الإزار . فإن فعل ذلك على وجه الخيلاء حَرُم
“Makruh hukumnya isbal pada gamis, sarung atau sarowil (celana). Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk meninggalkan ketika memakai izar (sarung). Jika melakukan hal itu karena sombong, maka haram”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
وإن كان الإسبال والجر منهياً عنه بالاتفاق والأحاديث فيه أكثر، وهو محرم على الصحيح، لكن ليس هو السدل
Walaupun memang isbal dan menjulurkan pakaian itu itu terlarang berdasarkan kesepakatan ulama serta hadits yang banyak, dan ia hukumnya haram menurut pendapat yang tepat, namun isbal itu berbeda dengan sadl”
Madzhab Hanafi
As Saharunfuri berkata :
قال العلماء : المستحب في الإزار والثوب إلى نصف الساقين ، والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين ، فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع . فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه
“Para ulama berkata, dianjurkan memakai sarung dan pakaian panjangnya sampai setengah betis. Hukumnya boleh (tanpa makruh) jika melebihi setengah betis hingga mata kaki. Sedangkan jika melebihi mata kaki maka terlarang. Jika melakukannya karena sombong maka haram, jika tidak maka makruh”
Dalam kitab Fatawa Hindiyyah (5/333) :
تَقْصِيرُ الثِّيَابِ سُنَّةٌ وَإِسْبَالُ الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ بِدْعَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْإِزَارُ فَوْقَ الْكَعْبَيْنِ إلَى نِصْفِ السَّاقِ وَهَذَا فِي حَقِّ الرِّجَالِ، وَأَمَّا النِّسَاءُ فَيُرْخِينَ إزَارَهُنَّ أَسْفَلَ مِنْ إزَارِ الرِّجَالِ لِيَسْتُرَ ظَهْرَ قَدَمِهِنَّ. إسْبَالُ الرَّجُلِ إزَارَهُ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ إنْ لَمْ يَكُنْ لِلْخُيَلَاءِ فَفِيهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ
“Memendekkan pakaian (sampai setengah betis) hukumnya sunnah. Dan isbal pada sarung dan gamis itu bid’ah. Sebaiknya sarung itu di atas mata kaki sampai setengah betis. Ini untuk laki-laki. Sedangkan wanita hendaknya menurunkan kainnya melebihi kain lelaki untuk menutup punggung kakinya. Isbalnya seorang lelaki melebihi mata kaki jika tidak karena sombong maka hukumnya makruh
Madzhab Syafii
Imam an-Nawawi berkata :

قَالَ النَّوَوِيّ : ظَوَاهِر الْأَحَادِيث فِي تَقْيِيدهَا بِالْجَرِّ خُيَلَاء يَقْتَضِي أَنَّ التَّحْرِيم مُخْتَصّ بِالْخُيَلَاءِ ، وَوَجْه التَّعَقُّب أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَمَا كَانَ فِي اِسْتِفْسَار أُمّ سَلَمَة عَنْ حُكْم النِّسَاء فِي جَرّ ذُيُولهنَّ مَعْنًى ، بَلْ فَهِمَتْ الزَّجْر عَنْ الْإِسْبَال مُطْلَقًا سَوَاء كَانَ عَنْ مَخِيلَة أَمْ لَا ، فَسَأَلَتْ عَنْ حُكْم النِّسَاء فِي ذَلِكَ لِاحْتِيَاجِهِنَّ إِلَى الْإِسْبَال مِنْ أَجْل سَتْر الْعَوْرَة ، لِأَنَّ جَمِيع قَدَمهَا عَوْرَة ، فَبَيَّنَ لَهَا أَنَّ حُكْمهنَّ فِي ذَلِكَ خَارِج عَنْ حُكْم الرِّجَال فِي هَذَا الْمَعْنَى فَقَطْ
Imam Nawawi berkata : Di dalam hadis ini terdapat penjelasan yang meunjukkan bahawa hadis-hadis larangan isbal itu tidaklah terhadap kepada perbuatan dengan sombong. Sekiranya ia dibataskan dengan faktor kesombongan, sudah tentu pertanyaan dari Ummu Salamah (kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam) berkenaan hukum perbuatan para wanita yang memanjangkan hujung pakaiannya itu tidak akan membawa makna sama sekali. Tetapi sebenarnya, apa yang dapat kita fahami adalah Ummu Salamah telah memahami adanya larangan isbal secara mutlak. Sehingga (dengan kefahamannya itu) beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkenaan hukum bagi para wanita di dalam permasalahan ini disebabkan perlunya mereka untuk melakukan isbal dalam rangka untuk menutup aurat mereka, kerana seluruh telapak kaki adalah merupakan aurat. Maka Nabi pun menjelaskan kepada Ummu Salamah bahawa hukum bagi para wanita di dalam perkara isbal ini berbeza dengan hukum bagi lelaki.
PERSPEKTIF ULAMA LAINNYA
Perspektif Ibnu Hajar Al Asqolani
Al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, selepas beliau menyebutkan hadis-hadis berkenaan isbal, beliau berkata:
وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا
Maksud Hadis-hadis ini menunjukkan bahawa melakukan isbal yang disertai dengan rasa sombong merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Adapun sekiranya dilakukan dengan tidak disertai dengan rasa sombong, dari zahir hadis-hadis tersebut, ia masih tetap juga haram (tidak seberat isbal dengan sombong).
Perspektif Ibnu Hazm
Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

وحق كل ثوب يلبسه الرجل أن يكون إلى الكعبين لا أسفل البتة، فان أسبله فزعا أو نسيانا فلا شئ عليه
Haq setiap pakaian bagi lelaki adalah sehingga mata kaki, dan sama sekali tidak boleh lebih rendah lagi (dari itu). Ada pun apabila lelaki tersebut pakaiannya menjadi isbal disebabkan terkejut atau lupa, maka tiada dosa baginya.
Perspektif Ibnu Usaimin
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa:Isbal hukumnya haram, bahkan dapat dikategorikan sebagai kabair (dosa besar), Jika isbal itu dilakukan kerena bermegah-megah dan sombong, maka perbuatan tersebut termasuk ke dalam kategori dosa besar dan hukumannya (akibatnya) sangat berat.
Perspektif Syekh Albani
Syekh Albany berkata : Haram hukumnya Isbal baik dalam keadaan sombong ataupun tidak “ .
Perspektif Syekh Bin Baz
Syekh Abdul Azis bin Baz berkata : “ Isbal itu haram, apapun alasannya. Dengan niat riya’ atau pun tanpa niat riya’. Pendeknya, apapun bagian pakaian yang lewat dari mata kaki adalah dosa besar dan menyeret pelakunya masuk neraka ”
Latar Penelitian
Pertama :
Terdapat beberapa Metodologi dalam memahami teks teks hadits di atas :
1. Apakah Hadits hadits tersebut menggunakan pendekatan Hamlul Mutlaq alal Muqoyyad ?
2. Atau hadits hadits teresebut menggunakan pendekatan Hamlul Muqoyyad alal Mutlaq ?
• Jika hadits hadits tersebut menggunakan pendekatan Hamlul Mutlaq alal Muqoyyad maka Hukum Isbal adalah Haram jika dengan kesombongan
• Jika hadits hadits teresebut menggunakan pendekatan Hamlul Muqoyyad alal Mutlaq, maka hukum isbal adalah haram dengan kesombongan atau tanpa kesombongan
Kedua :
Ketika Allah menggunakan kalimat Azab ( siksaan ) dalam Al quran dan hadits maka itu menunjukkan Haram dan dosa besar jika di laksanakan. Oleh karena itu, terhadap orang orang yang isbal maka Penggunakan Azab itu menunjukkan Keharaman ( dosa besar ) di karenakan Illat munasib ( alasan yang sama )
Ketiga :
Jika ada yang mengatakan makruh hukumnya Isbal, maka perlu di ketahui Makruh adalah sesuatu yang dibenci oleh allah, apakah kita mau terus menerus di benci oleh Allah ?
Keempat :
Terjadi kontradiktif antara Tekstual Hadits dan Kontekstual hadits
Oleh karena itu dalam Ilmu hadits ketka terjadi perselisihan secara Zhahirnya hadits maka di lakukan beberapa Metode :
1. Metode Al Jam’u baina Al hadits
2. Metode At Tarjih
3. Metode At tawaqquf
Penulis lebih menggunakan Metode yang pertama yaitu :
Bahwa Hukum Isbal adalah haram jika di lakukan dengan kesombongan, dengan Dalil dalil dan Argumen sebagai beikut :
1. Hadits hadits yang menjelaskan tentang Isbal dalam keadaan sombong
2. Adapun teks hadits tentang keumuman Isbal di gunakan pendekanatan Mutlaq Alal Muqoyyad
3. Banyak Para sahabat dan Ulama salaf yang menjulurkan Kainnya melebihi mata kaki diantaranya sebagai berikut :
Pertama :
Abu bakar pernah Melakukan Isbal :
عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ
Dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Siapa yang menyeret pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak.” Lalu Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (H.R.Bukhari)
Kedua :
Ibnu Mas’ud melakukan Isbal sebagaimana Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ ؛ أَنَّهُ كَانَ يُسْبِلُ إِزَارَهُ ، فَقِيلَ لَهُ ، فَقَالَ : إِنِّي رَجُلٌ حَمِشُ السَّاقَيْنِ.
Dari Abu Wail, dari Ibnu Mas’ud bahwasanya ia menjulurkan sarungnya. Lalu ditanyakan kepadanya perihal Isbalnya, ia pun menjawab, “Aku adalah seorang yang kecil kedua betisnya.”
Ketiga :
Shahabat lain yang diriwayatkan melakukan Isbal adalah Ibnu Abbas. At-Thobaroni meriwayatkan;
عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ:رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ أَيَّامَ مِنًى طَوِيلَ الشَّعْرِ، عَلَيْهِ إِزَارٌ فِيهِ بَعْضُ الإِسْبَالِ، وَعَلَيْهِ رِدَاءٌ أَصْفَرُ.
Dari Abu Ishaq, ia berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas pada hari Mina beliau berambut panjang, mengenakan sarung yang mencapai sebagian Isbal, dan mengenakan mantel berwarna kuning.”
Keempat :
Di kalangan Tabi’in, yang diriwayatkan melakukan Isbal adalah Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;
عَنْ عَمْرِو بْنِ مُهَاجِرٍ ، قَالَ : كَانَتْ قُمُصُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَثِيَابُهُ مَا بَيْنَ الْكَعْبِ وَالشِّرَاكِ.
Dari Amr bin Muhajir, ia berkata, “Jubah-jubah Umar bin Abdul Aziz, serta pakaian-pakaiannya menjulur hingga antara mata kaki dan tali sandalnya.”
Kelima :
Tabi’in yang lain adalah Ibrohim An-Nakho’i. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;
حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ، عَنْ مُغِيرَةَ ، قَالَ : كَانَ إِبْرَاهِيمُ قَمِيصُهُ عَلَى ظَهْرِ الْقَدَمِ.
Dari Mughiroh, ia berkata, “Ibrohim An-Nakho’I, jubahnya menjulur hingga punggung telapak kakinya.”
Catatan Kritis Terhadap Dalil-Dalil Pendapat Yang Mengharamkan Isbal Secara Mutlak
Pertama :
Dalil dalil hadits Aam yang menunjukkan keharaman secara Mutlaq di gunakan pendekatan Hamlul Mutlaq Alal Muqoyyad, Memang benar ada lafadz-lafadz Muthlaq terkait larangan Isbal, namun juga tidak dapat diingkari adanya lafadz-lafadz Muqoyyad (terikat) yang mengikat larangan Isbal dengan kondisi tertentu yaitu kesombongan. Dari sini berlaku kaidah ushul Fikih; Jika ada lafadz Muthlaq yang berhadapan dengan lafadz Muqoyyad sementara dua macam lafadz tersebut memiliki Hukum (الحُكْمُ) dan Sabab (السَّبَبُ) yang sama, maka diterapkanlah kaidah;
حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلى الْمُقَيَّدِ
“Membawa (lafadz) yang Muthlaq pada (lafadz) yang Muqoyyad”
Artinya, lafadz yang Muthlaq difahami, bahwa hukum yang dimaksud pembuat Syariat adalah adalah kondisi yang dijelaskan dalam lafadz Muqoyyad. Kaidah ini dipakai untuk mengakomodasi penerapan kedua macam Nash tersebut. Hal itu dikarenakan jika hanya lafadz Muthlaq saja yang diterapkan maka hal itu bermakna diabaikannya lafadz Muqoyyad, namun jika lafadz Muqoyyad yang diterapkan, maka lafadz Muthlaq tetap terterapkan.
Kedua :
“Washf yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib” tidak bisa menjadi Qoid “
Diantara argumen pendapat yang mengharamkan secara Muthlaq adalah memandang bahwa Nash-Nash Muqoyyad tentang larangan Isbal, semua Taqyidnya (pengikatnya) seperti lafadz “Khuyala” (kesombongan) atau “Bathor” (keangkuhan) adalah bentuk “Washf” (deskripsi) yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib” (diungkapkan untuk menunjukkan kebiasaan pada umumnya). Washf yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib” dipandang tidak bisa menjadi Qoid (pengikat) yang membatasi kondisi keharaman Isbalsebagaimana lafadz ” Fii Hujurikum” dalam ayat berikut :
وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ
Dan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu -haram kau nikahi- (An-Nisa; 23)
tidak bisa menjadi Qoid keharaman anak tiri karana termasuk Washf yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib”
Jawaban terhadap argumentasi ini adalah; Qoid sombong terhadap larangan Isbal bukan termasuk Washf yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib”, tetapi Ta’lil (penjelasan alasan) yang dinyatakan lugas dalam riwayat Isbal Abubakar. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan alasan kebolehan Isbal Abubakar dengan lafadz :
لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ
“Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”
Maka ini menjadi dalil yang jelas, bahwa larangan tersebut disebabkan karena sebab tertentu, yaitu kesombongan. Hal ini berbeda dengan ayat dalam surat An-Nisa diatas, karena pengasuhan bukanlah Ta’lil dari keharoman menikahi anak tiri. Lagipula, kesombongan yang menjadi Qoid dalam larangan Isbal didapatkan dari Manthuq Nash, yakni ucapan Nabi yang berbunyi;
لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ
“Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”
Bukan dari mafhumnya. Oleh karena itu argumen Washf yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib” tidak bisa menjadi Qoid tidak bisa diterima.
Tambahan lagi, memahami Washf yang “Khoroja Makhroja Al-Gholib” tidak bisa menjadi Qoid sehingga Isbal haram secara mutlak bertentangan dengan praktek Isbal yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abubakar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Ibrahim An-Nakho’I, Ayyub Assikhtiyani, dll.
Ketiga :
mengompromikan Nash yang Muthlaq dengan Nash Muqoyyad dalam laranganIsbal adalah dengan memahami; Isbal tanpa sombong haram, jika dengan sombong maka lebih haram lagi.
Catatan terhadap argumen ini adalah; cara kompromi dengan teknik pembedaan seperti diatas tersebut tidak memiliki landasan Nash yang kokoh, karena larangan Isbal dalam Nash Muthlaq maupun Muqoyyad tidak dinyatakan dalam gradasi ancaman. Malah Nash-Nash yang ada menunjukkan adanya penyamaan. Ancaman dalam Nash Muthlaq adalah di Neraka dan tidak dilihat Allah pada hari kiamat, sementara ancaman dalam Muqoyyad juga Neraka dan tidak dilihat Allah. Jadi pembedaan tersebut tidak bisa dipegang, kompromi yang tidak memuaskan, dan tidak mendapatkan dalil pengukuh untuk membuktikan kebenarannya. Lagipula, jika Isbal tanpa sombong memang harom maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abubakar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Ibrahim An-Nakho’I, Ayyub Assikhtiyani, dll tidak akan berani melakukannya.
Kompromi yang lebih tepat terhadap Nash-Nash Muthlaq dan Muqoyyad dalam kasus larangan Isbal yang sesuai dengan Nash-Nash yang lain adalah menerapkan kaidah:
حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلى الْمُقَيَّدِ
“Membawa (lafadz) yang Muthlaq pada (lafadz) yang Muqoyyad”
Keempat :
Adanya Nash-Nash yang melarang individu tertentu melakukan Isbal yang menunjukkan larangan mutlak.
Terdapat sejumlah Nash yang mengesankan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang individu-individu tertentu melakukan Isbal secara mutlak tanpa membedakan apakah dlakukan dengan sombong ataukah tidak. Diantara riwayat jenis ini misalnya kisah lelaki Ahnaf (berkaki bengkok) berikut:
عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ عَاصِمٍ أَنَّهُ سَمِعَ الشَّرِيدَ يَقُولُ أَبْصَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ أَوْ هَرْوَلَ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ قَالَ إِنِّي أَحْنَفُ تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّ كُلَّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ فَمَا رُئِيَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بَعْدُ إِلَّا إِزَارُهُ يُصِيبُ أَنْصَافَ سَاقَيْهِ أَوْ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ
Dari Ya’qub bin Ashim, bahwa ia mendengar Asy Syarid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang ,menyeret kainnya, maka beliau pun segera menyusulnya dan bersabda: “Angkatlah kainmu dan takutlah kepada Allah.” Laki-laki itu berkata, “Saya adalah seorang yang kaki dan kedua lututnya bengkok.” Beliau bersabda: “Angkatlah kainmu, karena setiap ciptaan Allah ‘azza wajalla adalah baik.” Maka laki-laki itu tidak pernah lagi dilihat, kecuali panjang kainnya hanya sebatas setengah betisnya hingga mati.
Demikian pula kisah Isbal ibnu Umar berikut :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَمَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ زِدْ فَزِدْتُ فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ إِلَى أَيْنَ فَقَالَ أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ
Dari Ibnu ‘Umar ia berkata; “Aku pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain (pakaian) saya terjurai sampai ke tanah.” Maka beliau berkata; ‘Hai Abdullah, naikkan kainmu! ‘ lalu akupun langsung menaikkan kainku. Setelah itu Rasulullah berkata; ‘Naikkan lagi.’ Maka akupun menaikan lagi. Dan setelah itu aku selalu memperhatikan kainku. Sementara itu ada beberapa orang yang bertanya; ‘Sampai di mana batasnya? ‘ Ibnu Umar menjawab; ‘Sampai pertengahan kedua betis.’

Jawaban terhadap argumentasi ini adalah sebagai berikut;
Nash-Nash larangan Isbal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap individu-individu tertentu yang mengesankan larangan Isbal secara mutlak harus difahami bahwa larangan Nabi terhadap mereka untuk melakukan Isbal adalah dikarenakan Nabi tahu berdasrkan Qorinah bahwa mereka melakukannya karena sombong.
Kesombongan seseorang dalam gerak-geriknya memang bisa dibaca dari Qorinah yang tampak, misalnya tahunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas kesombongan seorang lelaki yang makan dengan tangan kiri dalam hadis berikut:
إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُأَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ كُلْ بِيَمِينِكَ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ لَا اسْتَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ
Dari Iyas bin Salamah bin Al Akwa’; Bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan kirinya, Lalu Rasulullah bersabda: “Makanlah dengan tangan kananmu! Dia menjawab; ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda: “kalau begitu kamu benar-benar tidak akan bisa” dia menolaknya karena sombong. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.
Jadi larangan Isbal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada lelaki yang berkaki bengkok, ibnu Umar, Khuroim al-Asadi, ‘Amr bin Zuroroh dan yang semisal dengan mereka adalah dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengetahui selinapan rasa Khuyala yang ada pada mereka sebagimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tahu kesombongan seorang lelaki yang makan dengan tangan kiri. Rasulullah melarang Isbal kepada orang-orang yang beliau ketahui sombong, tetapi membolehkanIsbal kepada orang yang beliau ketahui tidak melakukannya karena sombong. Pembedaan perlakuan ini sama seperti pembedaan beliau terhadap seorang pemuda dan orangtua dalam kisah yang disebutkan dalam hadis berikut;
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ لِلصَّائِمِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ لَهُ وَأَتَاهُ آخَرُ فَسَأَلَهُ فَنَهَاهُ. فَإِذَا الَّذِى رَخَّصَ لَهُ شَيْخٌ وَالَّذِى نَهَاهُ شَابٌّ.
dari Abu Hurairah bahwa seoerang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai cumbuan orang yang berpuasa, lalu beliau memberikan keringanan kepadanya. Dan orang yang lain datang kepada beliau dan bertanya mengenainya, lalu beliau melarangnya. Ternyata orang yang beliau beri keringanan adalah orang yang sudah tua, sedangkan orang yang beliau larang adalah orang yang masih muda.
Kelima :
Hadis Jabir bin Sulaim menunjukkan bahwa Isbal itu termasuk kesombongan.
Ada sebuah hadis yang diriwayatakan Abu Dawud dari Jabir bin Sulaim yang memiliki redaksi sebagai berikut;
وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ
Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong
Dipahami bahwa Isbal termasuk kesombongan, dengan makna; orang yang berisbal pasti sombong. Oleh karena itu Isbal berdasarkan hadis Jabir bin Sulaim ini difahami haram secara mutlak, karena meskipun dilakukan karena sombong Nabi sendiri menyebut Isbalsudah merupakan kesombongan.

KESIMPULAN
Mengatakan bahwa orang melakukan Isbal pasti sombong bertentangan dengan pemahaman yang sehat sebagaimana tidak bisa diterima oleh realitas. Hal ini mirip seperti ungkapan; orang yang menangis pasti bersedih padahal realitasnya tidak selalu demikian. Secara realita, ada sebagian orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong misalnya orang yang kakinya luka kemudian ditutupi dengan kain panjang, atau memakai kaki palsu, atau kaki cacat dan semisalnya. Secara Nash, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri dan Abubakar juga melakukan Isbal. Seandainya Isbal pasti menimbulkan kesombongan, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abubakar termasuk shahabat-shahabat yang lain dan Tabi’in yang shalih adalah orang-orang yang jauh dari hal tersebut.
Statemen Nabi yang berbunyi :
وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ
Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong
Maknanya adalah; Umumnya Isbal itu didorong perasaan sombong. Sesuatu yang berlaku secara umum memang secara bahasa boleh diungkapkan secara mutlak untuk menunjukkan keberlakuannya yang terjadi secara merata dan umum. Sebagaimana Alah melaknat dan mencela orang Yahudi yang disebutkan secara umum, hal ini tidak bermakna seluruh keturunan Yahudi dilaknat Alah, karena ada orang-orang tertentu yang dikecualikan dari kondisi umum itu karena mereka berbeda dengan kondisi umum, yakni memilih beriman kepada Allah dan RasulNya seperti sejumlah Shahahabat yang berasal dari Yahudi: Abdullah bin Salam, Ubay bin Ka’ab, dll. Allah berfirman;
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُو
orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Al-Maidah; 64)
maknanya bukan semua Yahudi pasti mengucapkan perkataan keji tersebut, tetapi sebagian dari mereka.
Hal yang sama ketika Nabi mengatakan bahwa Isbal termasuk kesombongan. Maknanya; umumnya Isbal di zaman beliau adalah dilakukan karena sombong, jadi jangan mengikuti mereka.











DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah, Al Mughni, Darul Ibnu hazm Libanon, 1997 M
Abdullah Bin Muhammad bin Ibrohim bin Syaibah, al Mushonnafat, Dar Ibnu Hazm, Bairut, 1985 M
Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar al asqolani, Fathul baari, Darul fikr Libanon, 1995 M
Muhammad bin Yazid bin Majah al Qozwain, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al Kutub al Arobiyyah, 1985 M
Majd ad Din bin Muhammad bin Atsir, An Nihayah Fi Ghoribil Hadits, Maktabah Ilmiyyah, Bairut
Malik Bin Anas, Muwattho, Dar Ihya Turost, Bairut 1985 M
Muhammad bin Isa at Turmuzi, Sunan Turmuzi, Syirkah Maktabah Mustofa al Halaby, Cetakan ke 2 tahun 1975 M
Muhammad Bin Ismail al Bukhori, Shohih Bukhori, Maktabah Ilmiyyah, Bairut, Cet. Pertama, 1422 H
Muhammad bin Mukrom Bin Ali bin Mandzur, Lisanul Arab, Dar As shodir, Bairut Cetakan ke 3, 1414 H
Muslim Bin hajjaj al Qusyairi, Shohih Muslim, Dar Ihya Turost Al Arobi, Cetakan pertama, tahun 1985 M
Sulaiman bin Asy’as bin Ishak as Sijistani, Sunan Abu Daud, al Maktabah al Asriyyah, Bairut
Sulaiman bin Kholaf bin Saad bin ayyub al Baaji, Al muntaqo syarah Al muwattho , Darul Fikr Bairut 1985 M
Taqiyuddin bin Ahmad bin Abdis salam bin Taimiyyah, Iqtidho Sirotol mustaqim, Darul Fikr, Bairut 1985 M
Yahya bin Syarof bin Murry bin Hasan bin Muhammad an Nawawi, Syarah Sohih Muslim, Maktabah al Ilmiyyah, Bairut, 1987 M
Yusuf bin Abdullah bin abdil bar, At tamhid , Maktabah Ilmiyyah Bairut , Libanon