journal

Artikel Madzahib Volume 1: Analisis Normatif Buku “Adab Al Alimi wa al Muta’allimi wa al Mufty wa al Mustafty wa Fadhlu Thalibi al Ilmi”, Karya Imam Nawawi

PENDAHULUAN
Menuntut ilmu adalah kewajiban yang berlaku universal bagi setiap muslim dan muslimah dimana Islam sangat menghargai dan memuliakan orang yang berilmu. Itu bisa dilihat ketika Islam mengangkat derajat orang berilmu, membedakan ahli ilmu dengan yang bukan ahli ilmu serta memposisikan para ahli ilmu sebagai pewaris Para nabi-nabi Allah. Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar apabila semua jenis ikhtiar, partisipasi, aktifitas dan kreatifitas yang berhubungan dengan ilmu telah mendapat pujian dan apresiasi tinggi dalam literatur agama Islam baik yang bersumber dari al-Qur’an, hadits, qaul sahabat maupun petuah para ulama.
Keberadaan seorang Âlim yang berkarakter adalah salah satu unsur penting dalam proses pendidikan.Alasannya sangat sederhana yaitu Âlim merupakan bagian dari komponen pendidikan yang memegang peran sentral sekaligus menjadi figur utama yang melakukan kontestasi pendidikan sehingga suatu proses pendidikan dinilai berhasil. Namun keberhasilan itu tidak bisa dicapai tanpa adanya realisasi yang integral antara ilmu, iman dan akhlak.
Untuk mewujudkan integrasi iman, ilmu dan akhlak dibutuhkan figur utama tersebut sebagai sentral pendidikan dalam mendapatkan keteladanan, yang memiliki kepribadian dan intelektualitas yang baik sesuai dengan Islam.Sehingga konsep pendidikan yang diajarkan dapat langsung diterjemahkan melalui diri para pendidik. Inilah yang disebut qudwah sebagai salah satu model pendidikan karakter dalam al-Qur’an.
Selanjutnya pendidikan karakter adalah salah satu usaha untuk memperbaiki prilaku dan akhlak individu maupun sosial masyarakat. Karena akhlak yang baik adalah merupakan salah satu indikator manusia yang baik. Dan jika dilihat dari sudut pandang semua agama, pandangan filsafat, semua orang, manusia yang baik itu adalah manusia yang memiliki criteria/indikasi sebagai berikut :
1) Akhlaknya baik; akhlak yang baik itu harusnya akhlak yang berdasarkan iman yang kuat.
2) Memiliki pengetahuan yang benar, atau keterampilan kerja kompetitif.
3) Menghargai keindahan.
Sementara itu, penyebab terbesar dalam krisis pendidikan Islam adalah kegagalan dalam pembangunan karakter anak didik. Kegagalan ini terjadi karena aspek akhlak atau moralitas terabaikan dalam proses pendidikan yang sedang berlangsung. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mencapai tujuan-tujuan mulia diatas maka harus pula dicapai dengan cara-cara yang baik melalui proses yang beradab dan beretika khususnya harus ada standar akhlak atau etika yang di perlukan oleh seorang muta’allim (penuntut ilmu) dan Âlim (yang mengajar ilmu) dalam melaksanakan tugas mulia ini.
Untuk mengetahui standar akhlak atau etika yang diperlukan, berikut ini penulis akan memaparkan penjelasan tentang etika mu’allim dan muta’allim sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam bukunya yang sekaligus menjadi referensi dan sumber bahasan yaitu “ Âdâb al Âlimi wa al Muta’allimi wa al Mufty wa al-Mustafty wa fadhlu Thâlibi al Ilmi”.

Profil Singkat Imam Nawawi
Imam Nawawi adalah Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al Hurany, Penganut madzhab Syafi’I, lahir pada tahun 631 dan wafat pada tahun 676 H, salah satu dari sekian banyak ulama yang mumpuni, menguasai banyak disiplin ilmu, dan aktif dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar serta memilih meninggalkan kesenangan dunia dengan tidak pernah menikah seumur hidup demi menekuni ilmu. Beliau memiliki tulisan yang sangat banyak diantaranya ; Tahdzibul asma’ wa al-lughat, Al Minhaj fii Syarh muslim, al Taqrib wa al taisir fii mushthalah al hadits, al-Adzkar, Riyadh al Shalihin, al Majmu; syarh al Muhadzdzab dan lain-lain. (lihat Global Arabic Encyclopedia atau http://www.mawsoah.net)
Etika Memulai Perbuatan
Imam Nawawi menekankan perlunya ketulusan, kejujuran, kesungguhan dan niat yang baik ketika akan memulai suatu perbuatan. Ini bisa dilihat dalam pernyataannya yang berbunyi :
الإخلاص والصدق وإحضار النية في جميع الأعمال البارزة والخفية
“Ikhlas, Shidiq (kejujuran) dan menghadirkan niat dalam segala aktifitas baik yang nyata maupun yang tersembunyi”.(hal.6)
Jadi berdasarkan pernyataan di atas ada tiga hal yang harus dipenuhi sebelum memulai aktifitas termasuk dalam hal ini aktivitas pendidikan berupa belajar atau menuntu ilmu.
A. Niat Yang Ikhlas
Dalam memulai perbuatan sebaiknya niat ditata dengan baik agar niat sebelum melakukan perbuatan itu karena Allah, sebagaimana firman AllahQS.Al-bayinah, 98:5Dan sebagaimana sabda Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam :“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat, dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan apa yang telah ia niatkan, maka barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya, maka ia berhijrah karena Allah dan rasulnya, dan barang siapa yang berhijrah karena ingin meraih dunia atau karena wanita yang akan ia nikahi maka hijrahnya hanya untuk yang ia niatkan” (HR.Bukhari-Muslim)
Imam Nawawi mengatakan, para ulama salaf memulai tulisannya dalam setiap buku yang mereka tulis dengan mengutip hadits ini untuk mengingatkan para thullaabul ‘ilmi agar meluruskan niat dan keinginannya menuntut ilmu hanya karena Allah semata baik itu dalam perbuatan nyata maupun tersembunyi, terlebih lagi karena hadis ini mencakup tujuh puluh bab dalam bidang fikih dan muatan hadis ini meliputi sepertiga ilmu, demikian kata Nawawi mengutip pendapat Imam Syafi’i.(hal.7)
Dalam mendefinisikan dan menjelaskan ikhlas, Imam Nawawi mengutip beberapa pendapat antara lain :Abdullah bin Abbas. Beliau menjelaskan, “Sesungguhnya seseorang akan diberi pahala sesuai dengan qadar niatnya”.Sahl bin Abdullah al-Tustary berkata,“Para cendikiawan meneliti penjelasan tentang ikhlas lalu mereka tidak mendapatkan kecuali bahwa ikhlas itu menghendaki semua gerak gerik dan diamnya seseorang dalam keadaan sirr (tersembunyi) dan alaaniyah (terang-terangan) harus karena Allah dan tidak terdistorsi oleh motiv dunia dan jeratan hawa nafsu. (hal. 8)Demikian Imam Nawawi melihat urgensi niat yang ikhlas karena Allah dalam memulai setiap perbuatan termasuk dalam melakukan aktifitas pendidikan.
B. Shidq (Berbuat Benar)
Pesan yang tidak terlalu bebeda dengan ikhlas yaitu pentingnya shidq dalam memulai dan melakukan perbuatan.Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah QS.At-Taubah [9]:119. Imam Nawawi mengutip pendapat al-Qusyairy ketika menjelaskan shidq dengan mengatakan,“Shidq adalah pilar segalahal.Dengan sidqsegala urusan menjadi utuh, didalamnya (shidq) terjadi keseimbangan.Shidiq itu minimal menegaskan kesesuaian antara perbuatan yang tampak maupun yang tidak kelihatan”
Demikian halnya Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad. Dia mengatakan pendapatnya tentang shidqberupa orang yang benar akan melanglang buana empat puluh kali dalam setiap hari, sedang muraai (orang yang riya’) akan tetap dalam satu keadaan selama empat puluh tahun”.Dalam menjelaskan pendapat al-Junaid ini, Imam Nawawi mengatakan, orang yang benar akan terus melanglang buana bersama kebenaran yang memiliki nilai keutamaan syar’i; apapun jenisnya dan dimanapun kebenaran itu berada.Berbeda dengan muraai yang hanya terkait dengan satu kebiasaan dan ibadah tertentu.(hal.9-8)
Dari sini dapat dipahami bahwa baik ikhlas maupun shidiqkeduanya sangat ditekankan dalam memulai maupun melakukan perbuatan sebagai upaya yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah.Karena pada hakekatnya ikhlas itu memelihara dan melindungi diri dari pengamatan dan penilaian (mulaahadzhah) manusia agar tidak berbuat karena dorongan mulaahdzhah itu.Sebaliknya shidiq itu membersihkan diri dari tekanan nafsu. Demikian Imam Nawawi mengutip pendapat Abu Ali al-Daqqaq rahimahullah (الإخلاص التوقى عن ملاحظة الخلق, والصدق التنقى عن مطالعة النفس). (hal.8)
Keutamaan Berinteraksi Dengan Ilmu
Imam Nawawi menjelaskan keutamaan dalam berinteraksi dengan ilmu.Yang dimaksud berinteraksi adalah menulis,mempelajari,mengajarkan dan memotivasi orang lain untuk menempuh jalan mencapai ilmu. Setidaknya untuk menjelaskan hal ini, ada empat sumber yang beliau paparkan tentang keutamaan ilmu dengan istilah motivasi, yaitu ;
a) Motivasi Al-Qur’an
Motivasi ini dapat dilihat dalam firman Allah QS. az-Zumar[39]:9 dan QS. al-Mujaadilah[58]:1, dimana dalam dua ayat ini sangat jelas bagaimana Allah membedakan orang yang berilmu dengan memberikan beberapa kelebihan daripada orang yang tidak berilmu
b) Motivasi Hadits
Rasulullah Sallallaahu’alaihi wasallam bersabda ;
من يردالله به خيرا يفقهه في الدين. رواه البخاري ومسلم
“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah baginya kebaikan maka Allah akan memberikan pemahaman dalam agama” (HR.Bukhari dan Muslim)
c) Motivasi Sahabat.
Ali Bin Abi Thalib radiyallaahu anhu mengatakan,“Cukuplah kemuliaan bagi Ilmu terhadap orang yang mengklaim punya ilmu tetapi tidak mendalaminya lalu ia merasa senang ketika ilmu itu dikaitkan kepadanya.Dan cukuplah kehinaan bagi kebodohan apabila orang yang telah bersamanya lalu setelah itu ia melepaskan (kebodohan) dan meninggalkannya.” (hal.13)Muadz bin Jabal radiyallaahu anhu berkata,“Pelajarilah ilmu karena mempelajarinya karena Allah adalah bentuk rasa takut kepada-Nya.Menutut ilmu adalah ibadah.Mudzakarah ilmu adalah tasbih, meneliti adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengupayakan ilmu kepada ahlinya adalah qurbah.” (hal.13)
d) Motivasi Ulama Salaf.
Abu Muslim al-Khaulani berkata,“Perumpamaan ulama dimuka bumi adalah seperti bintang di langit, jika bintang itu terlihat oleh manusia maka mereka mendapat petunjuk, akan tetapi jika bintang itu tidak kelihatan oleh mereka maka mereka akan kelimpungan.” (hal.14)Wahab bin Munabbih berkata,“Ilmu akan memberikan kemuliaan meskipun ahli ilmu itu hina, memberikan kehormatan meskipun ia terkucilkan, terasa dekat meskipun ia jauh, memberi kekayaan meskipun ia fakir, memberikan kemuliaan meskipun ia hina dina, memberikan kewibawaan meskipun ia rendah dan memberikan keselamatan meskipun ia lugu.” (hal.14)
Imam Syafi’i berkata,“Menutut ilmu lebih mulia daripada shalat sunnah, tidak ada perbuatan setelah melaksanakan yang fardhu lebih utama daripada menuntut ilmu, barang siapa yang menghendaki dunia maka haruslah dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan akhirat maka haruslah dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka harulah dengan ilmu, dan barang siapa yang tidak mencintai ilmu maka ia tidak punya kebaikan maka janganlah berkenalan dan berteman dengannya.” (hal.14)
Celaan Bagi Yang Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah
Menurut Imam Nawawi, keutaman-keutamaan yang disebutkan sebelumnya bisa didapatkan apabila dalam menuntut ilmu dimaksudkan untuk mencari ridha Allah, bukan karena tujuan duniawi seperti meraih kedudukan, jabatan, pangkat, popularitas, memikat orang lain atau untuk membungkam para pendebat. Celaan atas tujuan ini dapat dilihat dalam keterangan berikut ini :
a) Celaan al-Qur’an.
Allah Subuhana wa Ta’ala berfirman;
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (٢٠)
“Barang siap yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaanpun di akhirat” (QS.Asy Syuura 42:20).
Rasulullah Sallaahu ‘alaihi wasallam memperingatkan dalam hadis berikut ini “
من تعلم علما يبتغي به وجه الله عز وجل لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها .
“Barang siapa mempelajari ilmu yang dengan ilmu itu diraih rahmat Allah, lalu ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenagnan dunia maka ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat.” (HR.Abu Daud dll dengan sanad yang sahih).
b) Petuah sahabat Nabi.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radiyallaahu anhu berkata; Wahai Ahli ilmu ! amalkanlah ilmu itu karena sesungguhnya orang alim itu adalah mengamalkan apa yang ia ketahui dan terdapat kesesuaian antara ilmu dan perbuatan dan akan ada kaum yang membawa ilmu tetapi perbuatan mereka berbeda dengan ilmunya, keadaannya diwaktu sembunyi tidak sama ketika ia kelihatan, ditempat dimana mereka berkumpul saling bangga diri satu sama lain hingga ada seseorang yang marah terhadap temannya karena meninggalkannya dan memilih belajar kepada orang lain, mereka itulah orang-orang yang amalnya tidak diangkat kepada Allah dalam majlis itu. (hal.21)
c) Nasehat Kalangan Ulama
Sufyan (mungkin maksudnya Sufyan bin Uyainah) berkata,“Tidaklah seseorang bertambah ilmunya lalu bertambah pula keinginannya akan dunia melainkan ia akan semakin jauh dari Allah.” Hammad bin Salamah juga berkata,“Barang siapa yang mencari hadis bukan karena Allah maka ia telah menipu.” (hal.21)Demikianlah Imam Nawawi memaparkan celaan bagi penuntut ilmu bukan karena Allah baik dari perspektif al-Qur’an, hadits, qaul sahabat maupun perkataan para ulama.
Klasifikasi Ilmu
Imam Nawawi telah mengklasifikasi ilmu dengan membedakan ilmu syar’i dengan ilmu tidak syar’i
1. Ilmu Syar’i.

Dalam menjelaskan ilmu syar’i, imam Nawawi membagi ilmu syar’i kedalam tiga kategori.Ada yang fardhu ‘ain, fardhu kifayah dan ada pula yang berkategori sunnah
a) Fardhu ‘ain yaitu keharusan seorang mukallaf mempelajari sesuatu yang menjadi syarat melakukan kewajiban seperti mengetahui tata cara berwudhu, shalat dan lain-lain (hal.23)
b) Fardhu Kifayah yaitu keharusan sebagian ummatIslam untuk mengetahui ilmu-ilmu syariat yang membuat tegak agama ini seperti menghafal al-Qur’an, hadits dan ilmu-ilmu yang terkait keduanya.Begitu pula ilmu ushul,fikih, nahwu sharaf, bahasa, mengetahui para rawi hadits, ijma, khilafiyah dan lain-lain (hal.26)
c) Nafl (sunnah) yaitu anjuran mempelajari ilmu-ilmu yang terkait dengan ushul al-adillah (sumber-sumber dalil), mendalami pengetahuan yang membuat kita mengetahui fardhu kifayah seperti seorang awam mempelajari shalat-shalat sunnah untuk diamalkan bukan seperti upaya yang dilakukan oleh para ulama untuk membedakan mana sunnah dan mana yang fardhu.
2. Ilmu NonSyar’i
Dalam hal ini Imam Nawawi menegaskan fardhu kifayah hukumnya mempelajari ilmu-ilmu yang menjadi penunjang tegaknya urusan dunia seperti ilmu kedokteran, ilmu menghitung dan lain-lain. (hal.27
3. Ilmu-Ilmu Diluar Yang Syar’i
Mempelajari ilmu-ilmu semacam ini ada yang haram seperti mempelajari ilmu sihir,falsafah, nujum dan semua ilmu yang dapat mendatangkan keragu-raguan. Ada yang makruh seperti mempelajari syair yang mengandung ghazal (cumbuan dan rayuan). Dan ada yang boleh seperti mempelajari syair yang tidak memuat isi yang tidak baik atau menginspirasi masyarakat berbuat keburukan dan jauh dari kebaikan dan lai-lain (Hal.28)
Akhlak Seorang Âlim
Dalam menjelaskan akhlak atau etika seorang pendidik, Imam Nawawi mengatakan bahwa pembahasan tentang pendidik ini sangat luas sekali hingga beliau telah mengumpulkan banyak sekali hingga apa yang beliau jelaskan dalam kitab ini belum sampai sepuluh persen dari total yang beliau kumpulkan.Terkait dengan etika mu’allim ini Imam Nawawi membagi akhlak pendidik dalam dua bagian, ada etika yang terkait dengan dirimu’allim dan ada etika dalam belajar atau mencari ilmu.
A. Akhlak Âlim Terkait dengan Diri Sendiri.
1. Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan bukan karena tujuan duniawi.
2. Berkarakter dan berkepribadian baik sesuai dengan petunjuk syariat
3. Menjauhkan diri dari sifat hasad, riya, ujub.
4. Membiasakan membaca dzikir doa-doa yang syar’I seperti tasbih dan tahlil
5. Muraqabatullah dalam segala kondisi, membiasakan membaca al-Qur’an, sholat sunnah,puasa dan lain-lain.
6. Menjaga kemuliaan ilmu
7. Menjaga wibawa
B. Akhlak ‘Âlim Dalam Belajar.
Selanjutnya Imam Nawawi menyarankan agar seorang pendidik/pengajar seharusnya :
1. Terus melakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu apakah itu dalam bentuk bacaan, pemaparan (iqra’), pendalaman (muthala’ah), Komentar (ta’liq), penelitian, pengamatan maupun tulisan.
2. Tidak sungkan belajar dari orang yang tingkat sosialnya lebih rendah darinya
3. Tidak malu bertanya tentang sesuatu yang belum ia ketahui, seperti kata ‘Aisyah radiyallahu anha, ”sebaik-baik wanita adalah para wanita kalangan anshar.Mereka tidak malu bertanya untuk tujuan memperdalam pemahaman akan agama.” Dan Mujahid juga berkata, “Orang yang malu bertanya atau sombong tidak boleh mempelajari ilmu.”Sa’id bin Jubair radiyallahu anhu berkata,“Senantiasa seseorang itu menjadi alim selama ia selalu belajar, maka jika ia meninggalkan ilmu (belajar) karena mengira ilmunya sudah banyak dan merasa cukup dengan ilmunya maka sesungguhnya ia adalah orang yang paling bodoh.” (hal.32)
C. Akhlak Âlim Dalam Proses Pendidikan
Imam Nawawi memandang bahwa proses pendidikan adalah merupakan aspek utama dalam tegaknya agama ini, karena dengan cara itu ilmu akan tersebar, oleh karena itu proses ta’lim adalah merupakan urusan yang sangat penting dalam agama ini, merupakan ibadah yang paling mulia dan termasuk fardhu kifayah yang sangat diprioritaskan. Sebagaiman firman Allah :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
“ Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberikan kitab (yaitu):” Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya..” (QS.Ali Imran [3]:187)
Dan dalam hadits shahih Rasulullah Sallallahu ‘alihi wasallam bersabda ;
ليبلغ الشاهد منكم الغائب
“Hendaklah yang hadir (menerima ilmu) diantara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir” (HR.Bukhari)
Imam Nawawi mengungkapkan sekitar 36 jenis akhlak atau etika dalam mengajarkan ilmu terhadap anak didik/penuntut ilmu yang dalam hal ini penulis mencoba mengklasifikasikan kriteria-kriteria akhlak tersebut dalam beberapa bagian, yaitu:
1. Akhlak Yang Bersifat Psikologis
a) Wajib mengajarkan ilmunya karena Allah, bukan sebagai wasilah untuk memperoleh tujuan duniawi, tetapi menjadikan pengajaran itu sebagai ibadah.
b) Sebaiknya tidak berhenti mengajar seseorang hanya karena niat orang tersebut tidak benar (tidak karena Allah) sebab ada kemungkinan niatnya akan baik, dan hal itu biasa dialami oleh para pemula kerena jiwa masih lemah dan belum suka ilmu. Apabila pengajaran dihentikan terhadap mereka maka ilmu akan terabaikan walaupun sebenarnya dengan berkah ilmu niatnya akan benar apabila ia sudah suka dengan ilmu. Dan mereka ada yang berkata,
طلبنا العلم لغير الله فأبى أن يكون إلا لله
“Kami menuntut ilmu awalnya bukan karena Allah tetapi ilmu itu sendiri tidak mau dipelajari kecuali karena Allah”
c) Mengajarkan secara bertahap etika yang baik serta melatih jiwanya dengan etika dan kepekahan (sensitifitas) untuk selanjutnya kepekahan itu dibiasakan dalam prilaku baik yang tersembunyi maupun yang terang seperti menanamkan keikhlasan, kejujuran, memperbaiki niat dan Muraqabatullaah. (hal.34)
2. Akhlak Dalam Membangun Relationshipdengan Muta’allim
a) Memberikan motivasi untuk mencintai ilmu
b) Selalu peduli dan perhatian untuk kebaikan muta’allim sebagaimana ia peduli terhadap diri dan anaknya.
c) Mengupayakan agar anak didiknya menyukai kebaikan dan menghindari keburukan sebagaimana ia menyukai kebaikan dan tidak menyukai keburukan bagi.
d) Bersikap toleran dan mempermudah dalam menyampaikan ilmu, tidak kasar, namun dengan cara nasehat dan membimbing untuk mengetahui hal-hal yang penting.
e) Tidak menghalangi mereka untuk mengetahui lebih banyak ilmu jika mereka punya kompetensi untuk itu.
f) Tidak mengajarkan sesuatu dimana mereka sendiri tidak memilki kompetensi akan hal itu.
g) Tidak merasa hebat dihadapan muta’allimin tetapi lembut dan tawadhu terhadap mereka, sebagaimana firman Allah, “…dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orng yang beriman” (QS. al-Hijr 15:88)Dan sabda Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam ;
ما نقصت صدقة من مال, وما زادالله عبدا بعفو إلا عزا, وما تواضع أحد لله غلا رفعه الله. رواه مس
“Harta tidak berkurang karena sedekah, dan tiadalah Allah menambahkan seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tiadalah seseorang yang tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR.Muslim)
3. Akhlak Dalam Menjaga Spirit Proses Pendidikan
a) Selalu antusias mengajar dengan memberi perhatian (attention) lebih.
b) Mencari tahu dan menanyakan muta’allim jika tidak hadir.
c) Mengerahkan kemampuan untuk memberi pemahaman hingga mereka mengerti dan memahami.
4. Akhlak Dalam Penyampaian Materi
a) Menjelaskan keterangan-keterangan yang diperlukan dari bidang ushul fiqh, dan susunan dalil-dalil mulai dari al-Qur’an, sunnah, Ijma’, Qiyas dan Istishabul haal.
b) Menjelaskan macam-macam qiyas dan tingkatannya.
c) Menjelaskan batasan Amr dan Nahy, batasan Umum dan khusus, batasan Mujmal dan Mubayyan dan batasan nasikhdan mansukh
d) Menjelaskan kilasan tentang nama-nama yang populer dari kalangan Sahabat dan ulama-ulama terbaik setelahnya baik menyangkut nasab, zaman, karya-karyanya dan lain-lain.
e) Menjelaskan kaedah-kaedah tashrif (ilmu sharaf)
f) Mengajarkan ilmu secara bertahap meskipun membutuhkan waktu yang lama.
g) Memulai pelajaran dari yang terpenting seperti memulai dengan menjelaskan tafsir kemudian hadits, ushul, pendapat madzhab, khilaf (perbedaan pendapat) dan selanjutnya diskusi.
5. Akhlak Dalam Melakukan Evaluasi Proses Pendidikan
a) Memberi motivasi untuk selalu belajar setiap saat, melakukan evaluasi dan koreksi untuk mengetahui kemampuan mereka serta memberi apresiasi dan penghargaan terhadap yang berprestasi.
b) Memperhatikan waktu kehadiran mut’allim
c) Perlu pengulangan dalam penjelasan makna dan kata-kata
6. Akhlak Memilih Strategi Dan Posisi Strategis Dalam Proses Pendidikan
a) Tampil beribawa dengan menjaga kerapihan dan gesture yang tidak berlebihan
b) Duduk ditempat yang terlihat oleh para hadirin
c) Memulai pelajaran dengan tilawah, basmalaah, tahmid, shalawat, mendoakan para ulama, kedua orang tua, para hadirin dan untuk seluruh ummatIslam.
d) Tidak memulai pengajaran jika ada yang menganggu seperti sakit, lapar, menahan hadats, terlalu senang atau sedang galau.
e) Tidak terlalu lama dalam menyampaikan taklim karena bisa menimbulkan kebosanan sehingga berat untuk dipahami dan dihayati.
7. Memilih tempat taklim yang sesuai serta mengontrol volume suara sesuai kebutuhan.
8. Kontinuitas dalam menjaga prilaku anak didik
9. Akhlak dalam menyelesaikan masalah
a) Sebaiknya seorang alim mewariskan kata” tidak tahu” dan memberi pemahaman bahwa perkatan seorang alim “saya tidak tahu” tidaklah menurunkan kedudukan, tetapi itu tanda keagungan tempat dan ketakawaannya dan kesempurnaan pengetahuannya karena orang yang punya kemampuan ilmiyah tidak pernah mempermasalahkan ketidaktahuannya akan banyak persoalan.
b) Sebaiknya seorang pengajar sesekali melontarkan masalah untuk dicari jawabannya sekaligus untuk menguji pemahaman mereka sehingga nantinya akan kelihatan siapa yang lebih paham lalu kemudian diberi perhargaan sebagai motivasi bagi yang lain.
c) Melakukan evaluasi sebelum mengakhiri taklim untuk tujuan pendalaman materi.

Akhlak Anak Didik (Muta’allim)
Imam Nawawi menyebutkan 35 akhlak yang harus menjadi standar etika anak didik dalam belajar, meskipun sebenarnya akhlak pendidik dan anak didik baik yang terkait dengan jiwa maupun dengan kegiatan belajar adalah sama. Namun untuk lebih jelasnya penulis mencoba mengklasifikasikan akhlak tersebut dalam beberapa bagian, yaitu :
1. Akhlak dalam membersihkan hati dengan berupaya menjauhi sifat hasad, ujub dan takabur.
2. Akhlak dalam tafarrug (fokus) untuk belajar dengan berupaya konsentrasi dan bersabar.
3. Etika dalam memilih Mu’allimdengan belajar pada yang ahli kompeten dan berintegritas dan menghindari menimba ilmu dari orang yang hanya belajar melalui buku tanpa guru untuk menghindari tahrif(penyimpangan).
4. Akhlak dalam membangun relationshipterhadap mu’allim dengan menjaga ketawadhuan, sikap penuh hormat, mengharap ridha, dan etika dalam setiap interaksi.
5. Akhlak ketika datang dan berada di tempat belajar (majlis ilmu) dengan memperhatikan kebersihan pisik maupun non pisik, memberi salam, mengatur shaf dan menjaga adab-adap majlis ilmu.
6. Akhlak dalam menjaga konsistensi belajar dan kesabaran dengan memperlihatkan antusiasme, konsistensi dalam setiap kondisi dan banyak bersabar.
7. Etika dalam memilih masa yang tepat untuk belajar dengan memilih kesempatan yang tepat dalam menuntut ilmu seperti memilih waktu luang, saat masa muda, saat masih sehat dan energik.
8. Etika dalam memulai pelajaran dengan hamdalah, shalawat kepada Rasulullah, mendoakan para ulama dan masyaikh, kedua orang tua dan seluruh ummatIslam.
9. Akhlak dalam melestarikan dan mendalami ilmu dengan melakukan pengulangan, evaluasi, koreksi, konsisten mengulangi ilmu dengan memilih waktu mudzakarah yang tepat dan memulai yang penting dari yang penting.
10. Akhlak dalam menghargai ilmu dengan menghargai sekecil apapun manfaat ilmu, menginventarisir ilmu dengan menulis dan mengajak orang lain ketempat memperoleh ilmu.
Selanjutnya menurut Imam Nawawi, apabila semua yang disebutkan di atas telah dilakukan dan disisi lain memiliki keahlian yang sempurna yang sudah mendapatkan pengakuan maka mulailah menulis, setelah itu ia akan terlihat mumpuni dan diakui kualitasnya dalam penulisan, kokoh dalam menukil dan istinbath, cermat dalam menjelaskan kalimat dan menganalisa persoalan, jauh dari kalimat yang sulit dimengerti dan dalil-dalil yang meragukan karena analisa dan kesimpulan itu diambil dari berbagai disiplin ilmu yang dibangun diatas ushul dan qawaid. Maka dengan begitu akan tersingkap baginya hakekat, terbuka baginya kemampuan melihat ragam persoalan, menemukan dan mengatasi hal-hal yang asing, mengetahui madzhab para ulama, yang rajih dari yang marjuh, terbebas dari belenggu dan kebekuan taklid yang akhirnya akan sejajar dengan Imam-imam mujtahid jika Allah merestuinya. (hal.52)
Akhlak Yang Diberlakukan Bagi Âlim dan Muta’allim
Imam Nawawi menjelaskan beberapa etika yang hendaknya dimiliki oleh seorang Muta’allim ataupun Mu’allim, yaitu ;
1. Hendaknya tidak terhalang melaksanakan tugasnya sebagai mu’allim ataupun mut’allim hanya karena penyakit ringan yang sebenarnya keberadaan penyakit itu masih memungkinkan untuk beraktifitas.
2. Hendaknya tidak bertanya dengan pertanyaan yang dibuat-buat yang mana pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban.
3. Hendaknya berusaha mendapatkan buku/referensi apakah dengan cara membeli atau meminjam bukan dengan menghabiskan waktu untuk menyalin kecuali jika diperlukan.
4. Hendaknya berterima kasih kepada yang meminjamkan buku atas kebaikannya.
Demikianlah sekilas pemikiran pendidikan terkait adab-adab atau akhlak muta’allim dan mu’allim yang dipaparkan oleh imam Nawawi meskipun beliau mengakui jika dilihat dari apa yang dijelaskan dalam buku ini cukup panjang, akan tetapi bentuknya ringkas jika dilihat dari segi pembahasannya, itu dimaksudkan agar buku ini kecil tapi isinya padat, mencakup semua apa yang dibutuhkan oleh penuntut ilmu. Wallaahu a’lam.



DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’an dan Terjemahannya, Komplek Percetakan al-Qur’an, Khadim al-Haramain al-Syarifain, Raja Fahd, Medinah al-Munawwarah, Departemen Haji dan Waqaf, Saudi Arabia 1411 H.

Al-Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syaraf, Âdâb al Âlimi wa al Muta’allimi wa al Mufty wa al-Mustafty wa fadhlu Thâlibi al Ilmi, (Thantha: Maktabah Al-Shahabah, 1408 H/1987 M), Cet.ke-1

Abdul Wahab Khalaf, Prof.Dr, Ilmu Ushul al-Fiqh, (ilmu ushulul Fiqh,Terj.Prof.Drs.KH.Masdar Helmy)Cet.ke 2 (Bandung: Gema Risalah Press, 1997) .

Munir Baalbaki dan Dr.Roni Baalbaki, Kamus al-Maurid,(terj.Ahmad Sunarto) (Surabaya: Halim Jaya, T.Th).

Ahmad Tafsir, Prof.Dr, Ilmu Pendidikan Islami, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,2012)

Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter berbasis Al-Qur’an, (Jakarta; Rajawali Pers, 2012),
Maktabah al-Syamilah