journal

Artikel Madzahib Volume 1: HUKUM MENIKAH DENGAN NIAT TALAK

PENDAHULUAN
Hidup berpasangan adalah merupakan Sunnatullah yang telah berlaku di muka bumi ini dan Allah Swt. menciptakan segala sesuatu dengan suatu sistem berpasangan yang kemudian menjadi rahasia keberadaan dunia ini. Oleh karena itu segala sesuatu yang kita saksikan di alam semesta ini, berupa keagungan ciptaan Allah Swt. telah dibangun diatas sistem berpasangan.Dengan sistem inilah, manusia dapat memperbanyak keturunan dan menjaga komunitas mereka dari kepunahan, karena dengan adanya hidup berpasangan dari dua jenis manusia yang berbeda, lahirlah manusia laki-laki dan manusia perempuan, sebagaimana Allah berfirman dalam Sûrah al-Nisa: 1 berikut ini:Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Meskipun Allah menghendaki demikian, namun tidak membiarkan manusia seperti makhluk lainnya yang menyalurkan keinginan seksualnya begitu saja, sertamembiarkan laki-laki dan perempuan berhubungan tanpa ada ikatan resmi, akan tetapi Allah Swt. menurunkan aturan- aturan yang sesuai dan layak buat mereka sehingga akan tercipta hubungan yang mulia, hubungan yang dapat menjaga kehormatannya. Dan hubungan dalam bentuk ikatan yang mulia ini pulalah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena manusia dibekali dengan fitrah dan akal pikiran, dimana manusia dengan fitrah dan akal tersebut dapat mencapai hidup bahagia dan damai. Hubungan yang dimaksud di atas adalah hubungan pernikahan, yang menjadi jalan penyaluran hasrat seksual yang aman dan halal berdasarkan aturan-aturan yang telah diajarkan olehAllah dan Rasul-Nya.
Islam juga memandang pernikahan sebagai suatu sarana memantapkan aspek moral, karena pernikahan yang Islami dapat menjaga ummat dari kerusakan dan dekadensi moral serta menjaga individu khususnya dan masyarakat pada umumnya dari kerusakan sosial karena gejolak kecenderungan kepada lain jenis telah dapat terpenuhi dengan pernikahan secara syar'i dan hubungan yang halal.
Di samping itu pernikahan juga merupakan sarana stabilitas sosial yang efektif untuk merealisasikan tujuan baik yang menjamin kemandirian, integrasi, ikatan, dan hubungan sosial yang kuat dan kokoh. Pernikahan menurut Islam sebagai sarana stabilitas aspek kesehatan dan terapi berbagai penyakit kronis yang efektif untuk membentengi generasi muda agar tidak terjebak dalam tradisi yang berbahaya, kelainan seksual, serta kerusakan fisik dan mental yang diakibatkannya, di samping sarana yang efektif untuk membentengi diri dari penyakit kelamin yang membahayakan, karena penyakit itu hanya akan muncul dan mewabah bersamaan dengan maraknya perbuatan maksiat, zina dan pergaulan bebas yang di larang syari'at. Dan tidak hanya itu, pernikahan juga sebagai sarana stabilitas aspek politik, karena pertahanan dan kewibawaan suatu ummat tidak akan pernah eksis kecuali bila memiliki kuantitas yang memadai dan kemampuan untuk mencari sebab pertahanan dan kewibawaan tersebut. Kekuatan itu tidak terlepas dari dua bentuk yaitu kekuatan mental dan materil, oleh karena itu Islam datang dan menyaksikan kekuatan mental pada keimanan kepada Allah, sedangkan kekuatan materil yang paling fundamental adalah kelompok generasi muda yang dedikatif, maka Rasulullah Saw menyerukan kepada ummatnya untuk menikah dan memperbanyak anak danmelahirkan generasi yang berkualitas, kuat, pejuang dan aktif yang mampu menjaga ummat dan mempertahankan negara dan menyebarkan agama Islam.
Keterkaitan wanita dengan laki- laki adalah merupakan keterkaitan antara cabang (furu’) dengan asal dan keterikatan antara keduanya secara berkesinambungan adalah suatu yang alami karena setiap dari keduanya berfungsi sebagai penyempurna bagi yang lain.Jika dilihat kembali sejarah penciptaan manusia maka akan didapatkan pernikahan merupakan proses yang kedua setelah penciptaan manusia pertama yang menjadi proses pertama berdasarkan Sûrah al-Nisa: 1 di atas, yang kemudian dari keduanya terjadilah proses yang ketiga berupa lahirnya keturunan yang terus bertambah dan berkembang biak laki-laki dan perempuan yang banyak. Oleh karena itu pernikahan adalah asas di dalam mewujudkan kuantitas manusia yang banyak karena Nabi Âdam as, tidak memproduksi keturunan sendiri demikian pula dengan Hawa’ melainkan adanya kolaborasi di antara keduanya dalam bentuk pernikahan dan pernikahan itu sudah pasti bukan bersifat sementara melainkan untuk seterusnya mengingat tujuannya memperoleh anak keturunan. Dan cara yang sama diteruskan oleh anak cucu Nabi Âdam as, hingga terbentuk komunitas yang bermula dari lingkup keluarga hingga menjadi sebuah ummat manusia. Dan sekali lagi ini tidak dapat terwujud apabila pernikahan itu hanya bersifat tentatif tanpa berkesinambungan.
Kemudian dapat dimaklumi jika aspek-aspek positif yang didapatkan lewat pernikahan adalah merupakan suatu yang dapat tercapai apabila pernikahan tersebut dibangun di atas prinsip-prinsip syar'i serta adanya niat dari masing-masing individu yang menjalani proses pernikahan itu hidup berumah tangga secara rukun, damai dan berkesinambungan tanpa ada niat dari mereka untuk berpisah suatu saat.
Setelah itu sesuatu dapat saja mengancam terputusnya ikatan suci ini serta dapat melalaikan semua aspek-aspek positif yang di kandungnya, jika salah seorang dari kedua pasangan suami isteri tersebut mempunyai maksud untuk berpisah dari pasangannya pada suatu saat terutama pihak suami, atau lebih konkritnya jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan tetapi di dalam hatinya ada niat untuk menceraikan (mentalaknya) pada suatu saat yang tidak ditentukan atau dengan kata lain menikahinya dengan niat talak.
Fenomena seperti ini banyak ditemukan di tengah komunitas muslim, terutama bagi mereka yang pergi jauh meninggalkan keluarga karena harus pergi keluar negeri misalnya, dengan alasan tugas, bekerja, belajar dan lain lain sebagainya yang dengan alasan tertentu harus hidup sendiri tanpa pendamping. Hal ini tentu akan berimplikasi kepada kekhawatiran pada diri mereka akan terjerumus kedalam pergaul an bebas serta perbuatan zina yang diharamkan. Agar terhindar dari perbuatan keji ini sebagian dari mereka pun menikah dengan seorang perempuan melalui nikah secara syar'i, namun dengan niat dan maksud untuk menceraikan isterinya tersebut tatkala masa aktivitas, bertugas, bekerja dan belajar telah selesai yang mana kondisi yang demikian itu menuntut mereka untuk kembali ke negara dan tempat asal masing-masing tanpa harus membawa serta isterinya tersebut yang mungkin sudah di talaknya dengan beberapa alasan yang diantaranya adalah terbentur masalah aturan negara yang bersangkuatan, atau faktor keluarga yang mungkin akan menjadi problema tersendiri di kemudian hari.
Pernikahan semacam ini selain terjadi karena faktor kondisi sosial masyarakat yang dinamis yang mungkin memaksa seseorang untuk melakukannya dan yang lebih penting dari itu adalah adanya pendapat dari beberapa ulama yang membolehkan pernikahan dengan niat talak. Fenomena nikah dengan niat talak inilah yang coba dibahas secara mendalam dalam penelitian ini.Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis merumuskan permasalahannya, Bagaimana hukum nikah dengan niat cerai dalam perspektif ulama mazhab ?

PEMBAHASAN
1. Pengertian Nikah dengan Niat Talak
Pengertian nikah dan talak baik secara etimologi maupun terminologi tidak perlu lagi dibahas di sini, oleh karena itu penulis langsung mengemukakan pendapat ulama mengenai bentuk dan pengertian secara umum mengenai nikah dengan niat talak. Menurut Ibnu al-Humam, nikah niat talak adalah apabila seseorang menikah dengan seorang perempuan dengan maksud akan mentalaknya setelah lewat beberapa waktu yang telah ia niatkan. Nikah dalam pengertian ini hanya berlangsung beberapa waktu sajakarena setelah itu akan terjadi talak. Sedangkan menurut al-Baji nikah niat talak adalah nikah yang dilakukan oleh seseorang tetapi tidak bermaksud membina pernikahan untuk seterusnya tetapi hanya bertujuan memperoleh kesenangan beberapa waktu lamanya lalu setelah itu ia mentalak isterinya tersebut.4 Nikah dalam pengertian ini hanya bertujuan memperoleh kesenangan yang bersifat sementara karena setelah beberapa waktu akan terjadi talak.
Adapun menurut Ibnu Qudamah, bahwa nikah niat talak adalah nikah yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud mentalak isterinya setelah berlalu satu bulanatau mentalaknya setelah menyelesaikankeperluannya di suatu tempat. Atau selama ia bermukim di suatu tempat atau mentalaknya setelah tinggal selama satu tahun. Selanjutnya Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa nikah niat talak adalah menikah dengan maksud hidup bersama kemudian mentalaknya setelah lewat beberapa waktu, seperti halnya seorang musafir yang singgah di suatu tempat untuk bermukim kemudian menikah di tempat itu tetapi setelah itu ia mentalaknya ketika hendak kembali kenegerinya atau ketempat asalnya.
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat diformulasikan bahwa secara umum pendapat-pendapat di atas tidak terlalu banyak perbedaan melainkan mengandung maksud dan pengertian yang sama, dimana yang dimaksud nikah niat talak adalah apabila seseorang menikah dengan niat dan bermaksud mentalak isterinya tersebut setelah berlalu beberapa waktu lamanya baik untuk jangkawaktu yang singkat maupun dal am jangka waktu lama.
Selanjutnya pengertian nikah niat talak terdapat kemiripan dengan pengertian nikah mut‟ah dan nikah tahlîl. Oleh sebab itu penulis akan mengemukakan terlebih dahulu perihal nikah mut‟ah dan nikah tahlîl berikut perbedaan keduanya dengan nikah niat talak sebelum membahas hukum nikah niat talak. Mengingat nikah niat talak terdapat kemiripan dengan nikah mut‟ah karena keduanya dikaitkan dengan waktu tertentu meskipun salah satunya di syaratkan pada saat akad dan yang lain baru sebatas niat. Demikian halnya nikah niat talak mempunyai kemiripan dengan nikah tahlîl karena keduanya mengandung niat talak di mana dalam nikah tahlil suami bermaksud mentalak isteri yang dinikahi untuk memberi jalan kepada suami pertama untuk kembali kepada bekas isterinya. Baik nikah mut‟ah maupun nikah tahlil akan di jelaskan secara parsial berikut ini.
2. Perbedaan Nikah Mut ’ah Dengan Nikah Dengan Niat Talak
Dalam masalah ini akan dijelaskan pengertian, hukum dan perbedaan nikah Mut’ah dengan nikah dengan niat talak.
a. Pengertian Nikah Mut’ah.
Katamut’ah adalah bentuk mashdar darikatayangberarti (memperoleh manfaat) atau apa yangdiambil manfaatnya walaupun sedikit untuk sementara waktu dan akan berakhir dalam waktu yang dekat.Adapun nikah mut’ah dalam pengertian terminologi adalah akad nikah yang dilangsungkan kemudian nikah tersebut disyaratkan berakhir untuk waktu tertentu atau nikah yang bertujuan bersenang-senang untuk jangka waktu tertentu tanpa maksud untuk membina dan meneruskan pernikahan, dan tidak ada batasan yang pasti dalam menentukan waktu yang disyaratkan karena menurut Ibnu Abdi al-Bar nikah mut’ah itu dilakukan untuk jangka waktu tertentu apakah itu sehari, sebulan ataupun untuk beberapa lama yang apabila waktu yang ditentukan itu berakhir maka berakhir pula pernikahan tersebut.
Pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Ibnu Qudama yaitu nikah mut’ah adalah menikah untuk jangka waktu tertentu. Seperti ucapan oleh wali: ”saya nikahkan engkau dengan putriku selama sebulan atau setahun atau sampai selesai musim haji dan
kembalinya para jamaah haji atau yang serupa dengan shigat tersebut baik jangka waktunya diketahui atau tidak diketahui. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa nikah mut‟ah adalah nikah yang dilangsungkan dengan tujuan kesenangan untuk jangka waktu tertentu karena akan berakhir seiring dengan habisnya waktu yang telah di sepakati.
b. Hukum nikah mut’ah.
Dalam menyikapi nikah mut’ah ini, para ulama dan mayoritas sahabat sepakat mengatakan bahwa nikah mut’ah adalah haram kecuali syi’ah dan riwayat dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa nikah mut’ah adalah dibol ehkan.Jumhur sepakat mengharamkan nikah mut’ah berdasarkan al-Qur’an, sunnah, Ijma’ dan logika. Adapun ayat al-Qur’ân yang mengandung pengharaman terhadap nikah ini terdapat dalam Sûrah al-Mukminun: 5-7 berikut :Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budah yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampai batas.
Adapun nikah muth’ah tidak termasuk nikah yang sahih dengan alasan bahwa nikah ini berakhir dengan sendirinya sesuai waktu yang ditentukan walaupun tanpa dengan talak, didalamnya tidak ada beban nafkah dan tidak saling mewarisi.
Adapun dalam pandangan sunnah terdapat banyak riwayat yang menjelaskan pengharaman nikah ini, antara lain: Hadis yang diriwayatkan oleh al-Rabi bin Sabrah ra, dari ayahnya yaitu :Bahwasanya Rasulullah Saw. Melarang Nikah mut’ah lewat sabdanya : Sesungguhnya nikah mut;ah itu haram sejak hari ini sampai hari kiamat (HR Muslim )
Dari Segi Ijma para ulama dan mayoritas sahabat sepakat mengharamkan nikah mut’ah. Adapun dari segi logika, nikah itu disyariatkan bukan hanya untuk kebutuhan syahwat semata melainkan untuk tujuan-tujuan dan maksud-maksud yang lain, dan memenuhi kebutuhan syahwat dengan cara nikah mut’ah tidak akan menghantarkan kita untuk mencapai maksud-maksud yang menjadi tujuan nikah disyariatkan.Adapun riwayat yang menunjukkan kebolehan nikah mut’ah seperti riwayat Ibnu Masud ra,di atas adalah dibolehkan karena terlalu lama mengadakan perjalanan karena urusan perang sehingga terpaksa melakukan nikah mut’ah kemudian setelah itu di haramkan hingga hari kiamat.
Di antara riwayat yang menunjukkan nasakh (penghapusan hukum) kebolehan nikah mut’ah adalah hadist riwayat Sabrah bin Mabab al-Juhani ra :Wahai sekalian manusia sesungghnya aku pernah membolehkan untuk bersenang-senang (nikah mut’ah, tetapi ketahuilah Allah telah mengharamkannya sampaihari kiamat.(HR Muslim dan Ibnu Majah)
Dan hadist yang di riwayatkan oleh Ali bin Abi Talib ra :Sesungguhnya Rasulullah Saw. Melarang nikah mut’ah pada hari (waktu terjadi) perang Khaibar (HR Muslim)
Hadist di atas menunjukkan bahwa nikah mut’ah pernah di bolehkan kemudian di haramkan hingga hari kiamat. Imam syafi’I20 mengatakan saya tidak mengatahui sesuatu yang di halalkan oleh Allah kemudian ia meharamkan kemudian dibolehkan kemudian diharamkan selaian nikah mut’ah.

C. Letak Perbedaan Nikah Mut’ah Dengan Nikah Niat Talak
Adapun persamaan nikah mut’ah dengan nikah niat talak adalah keduanya dikaitkan berakhir dengan waktu tertentu. Sedangkan dari segi perbedaan dapat diformulasikan sebagai berikut ;
1) Dalam nikah mut’ah waktu perceraian ditentukan dan diucapkan pada saat akad nikah dilaksanakan, sedangkan nikah dengan niat talak waktu perceraian tidak ditentukan pada saat akad nikah dilangsungkan tetapi suami mentalak istrinya kapan ia kehendakai berdasarkan situasi dan kondisi yang telah di niatkan
2) Pada saat akad nikah mut’ah pihak laki-laki mengatakan dalam singhah nikah (saya akan bersenang–senang dengan kamu) dan diharuskan menggunakan lafaz tamattu’ pada saat akad nikah. Berbeda dengan nikah dengan niat talak ijab dan qobulnya sama dengan nikah yang dilakukan secara mutlak dimana lafadz nikah diucapkan dalam bentuk nikah dan
3) zawaj. Berbeda denagan kalimat mut’ah dan bentuknya adalah merupakan lafadz yang disepakati oleh para ulama unuk tidak digunakan dalam pernikahan karena tidak mengandung makna kepemilikan.
4) Bentuk nikah mut’ah berbeda dengan nikah yang sah karena hukum-hukum yang berkaitan dengan pernikahan seperti talak zihar dan warisan tidak terdapat di dalam pernikahan ini. Sedangkan benuk nikah dengan niat talak sama dengan nikah yang sah karena hukum-hukum yang berkaitan dengan nikah yang sah didapatkan dalam nikah niat talak ini.
5) Perceraian dalam nikah mut’ah terjadi dengan sendirinya meski pun tanpa mengucapkan talak apabila waktu yang telah disepakati telah selesai. Sedangkan perceraian dalam nikah dengan niat talak harus melalui mengucapkan kalimat talak karena talak ini dilakukan secara mutlak sama seperti nikah pada umumnya.
6) Nikah mut’ah telah disepakati pengharamanya oleh jumhur ulama dan para shabat. Sedangkan nikah dengan niat talak telah disepakati kebolehannya oleh jumhur ulama
3. Perbedaan Nikah Tahlil dengan Nikah dengan Niat talak
a) Pengertian Nikah Tahlil.
Kata tahlîl adalah mashdar dari yang berarti melepaskan. Jika dikatakan berarti melepaskanikatan atau berarti mebiarkan singgah tempat itu. Adapun nikah tahlîl dalam pengertian ulama fikih adalah jika seorang menikah dengan wanita yang tertalak tiga, lalu menceraikannya dengan maksud memberi jalan supaya dapat dinikahi oleh suaminya yang pertama. Atau menikahi wanita yang tertalak tiga yang selesai menj alani masa iddahnya lalu kemudian ia mentalaknya supaya suami yang pertama bisa menikahinya kembali.
Jadi nikah tahlîl adalah akad nikah yang dilangsungkan dengan maksud membukakan jalan bagi suami pertama untuk kembali menikahi bekas isterinya yang tertalak tiga setelah habis masa iddahnya, karena menikah dengan orang lain adalah merupakan syarat untuk suami pertama untuk kembali kepada mantan isterinya.
b) Hukum Nikah Tahlil.
Para ulama berbeda pendapat mengenai nikah tahlîl. Menurut Jumhur ulama bahwa nikah semacam ini termasuk nikah batil yang diharamkan. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Syafiiyah bahwa nikah tahlîl termasuk nikah yang sahih.Dan berdasarkan apa yang di riwayatkan oleh Umar bin Khottob ra bahwa ada seseorang yang mendatanginya dan bertanya tentang orang yang mentalak tiga istrinya, kemudian oleh saudaranya dinikahinya wanita tersebut untuk memuluskan jalan saudaranya untuk bisa menikahi kembali istrinya. Apakah wanita itu boleh dinikahi kembali oleh suaminya? Umar menjawab; Tidak boleh kecuali pernikahan itudilakukan atas dasar suka sama suka. Karena dulu kita menganggap perbuatan ini suatu perbuatan keji padawaktu Rasulullah Saw masih hidup. Alasan Pendapat kedua :
1. Nikah tahlil dibolehkanberdasarkanfirmanAllah dalah Surah al-Baqarah:230 berikut :Maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Jika istrinya di haruskan menikah sebelum kembali kepada suami yang pertama, maka nikah dengan cara ini adalah akad yang disertai mahar, wali, atas kemauannya sendiri serta tidak ada halangan syar’i serta suami yang kedua rela menceraikannya agar bisa kembali nikah dengan suami yang pertama, hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Umar ibnu Khottob ra ;Sesungguhnya Nabi bersabda saw .........yidak boleh kecuali nikah berdasarkan suka...... ( HR Hakim ). Dan nikah ini harus berdasarkan suka sama suka dan kerelaan menghalalkan pihak suami yang pertama sebagaiman diperintahkan Allah “ hingga ia kawin dengan yang lainnya” dalam surat Al-Baqoroh ayat 230.
2. Nikah tahlil termasuk nikah yang sahih karena di namakan muhalil berarti menunjukkan bahwa nikah tersebut sahih karena ia menyebabkan halal bagi suami yang pertama.Menurut pendapat penulis yang kuat adalah menurut pendapat jumhur ulama karena hadist yang di jadikan dasar untuk mengharamkan pernikahan ini adalah sudah jelas. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Rosyid Ridho bahwa dalam surat Al- Baqoroh ayat 230 itu sudah jelas dimana dijelaskan bahwa nikah yang sohih bagi wanita yang tertalak tiga adalah nikah yang dilakukan secara sohih berdasarkan sukasama suka tidak ada tekanan atau yang lain. Dan apabila pernikahan dengan maksud ihlal ( memberi jalan ) bagi suami yang pertama untuk bisa nikah kembali padanya maka pernikahan itu tidak sah dan bekas istrinya itu tidak halal baginya karena ituperbuatan maksiayat yang di laknat oleh Allah SWT.. Hal ini di ibaratkan oleh Rosyid Ridha seperti darah yang dibersihkan dengan menggunakan air kencing.
c. Letak Perbedaan Nikah Tahlîl dengan Nikah Niat Talak.
Selanjutnya setelah melihat dan menyimak pengertian nikah Tahlil di atas maka letak persamaan antara nikah tahlil dan nikah dengan niat talak adalah keduanya bertujuan untuk tidak menjalani kehidupan yang berkesinambungan dan berkelanjutan melainkan hanya sementara waktu saja. Adapun perbedaan yang mendasar antara keduanaya adalah ;
a) Bahwa seorang muhallil ketika menikahi seorang wanita yang sudah tertalak tiga bermaksud mentalaknya kembali baik sebelum bercampur dengannya maupun sesudahnya supaya bisa membukakan jalan bagi suami yang pertama untuk bisa kembali mengawini bekas isterinya itu yang tadinya haram baginya karena sudah jatuh talak tiga, maka pernikahan kembali dengan suami yang pertama mengandung unsur rekayasa. Berbeda jika ia menikahi seorang wanita lalu berniat mentalaknya pada suatu saat, maka pernikahan tersebut tidak mengandung unsur rekayasa. Karena selama ia belum menjatuhkan talak, bisa saja mulanya ia bermaksud mentalaknya suatu saat tetapi ia kemudian membatalkan niat dengan alasan tertentu setelah ia menjalani hidup bersamanya. Maka aqadnikah semacam ini adalah aqad yang sahih35 tidak menyalahi syara’. Berbeda jikaseseorang menikah tetapi hanya bermaksud rekayasa(tahlîl) bahkan bermaksud mempermainkan hukum itu sendiri atau hanya untuk merusak dan mempermainkan para wanita karena tujuannya hanya untuk mentalaknya kembali
b) Dalam nikah tahlîl pada dasarnya terdapat kesepakatan di antara kedua belah pihak, bahkan bisa saja terjadi atas permintaan pihak wanita. Hal ini pernah terjadi pada zamanRasulullah saw. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Âisyahra. Ia berkata: bekas istri Rifa’ah pernah datang kepada Rasulullah saw. Lalu berkata kepada Nabi: Dulu saya adalah isteri Rifa’ah lalu ia menceraikanku dengan talak ba’in, lalu aku menikah setelah itu dengan Abd al-Rahmân bin al-Zubair meskipun ia hanya memiliki sehelai pakaian. Rasulullah tersenyum mendengar pengaduan wanita itu lalu beliau bersabda kepadanya:Apakah engkau berhasrat kembali kepada Rifaah ? kamu tidak boleh kembali kepadanya hingga engkau merasakan apa yang ada padanya(bersetubuh) dan ia jugamerasakan apa yang ada pada engkau (HR Bukhari-Muslim). Adapun nikah niat talak tidak dilangsungkan atas dasar kesepakatan untuk bercerai pada suatu saat karena kemungkinan jika wanita itu mengetahui niat suaminya tersebut dan besar kemungkinan ia tidak akan menerima niat talak dari suaminya tersebut. Dan selanjutnya akad bisa dilangsungkan di antara keduanya karena kemungkinan wanita itu tidak mengetahui apa yangn tersirat dibenak sang suami seperti niat untuk menceraikannya suatu saat, karena jika wanita itu mengetahuinya dari awal maka kemungkinan ia akan menolak menikah dengannya.
c) Hukumnikahtahlîltelahdisepakatikeharamannya oleh paraahli ilmu, berbeda dengan nikah niat talak hukum kebolehan dan keharamannya masih diperselisihkan oleh para ulama.

A. Hukum Pernikahan Dengan Niat Talak
Selanjutnya apa yang sudah dikemukakan pada pembahasan terdahulu bahwa bentuk nikah dengan niat talak adalah tergolong bentuk pernikahan yang mutlak di mana pernikahan tersebut mencakup rukun-rukun dan syarat-syarat yang diperlukan, serta sighah(Lafaz ijab dan qabul) pernikahan tersebut sama seperti lafaz pernikahan pada umumnya. Oleh karena itu sebagian besar ulama membolehkan pernikahan semacam ini.
Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Nikah Dengan Niat Talak
Paraulamaberbedapendapatantaramembolehkan, mengharamkan, danmemakruhkannya antara lain ;
A. Pendapat Ulama Yang Membolehkan
1. Ulama Hanafiyah
Pandangannya talak tidak berimplikasiapa-apa jika baru sebatas niat dan belum diutarakan dalam bentuk ucapan. SebagaimanayangdikemukakanolehIbnual-Humâmbahwa: apabilaseseorangmenikah dengan niat dalam hati bahwa akan menceraikan isterinya suatu saat, maka nikahnya sah, karena yang diperhitungkan dalam menentukan perceraian adalah melalui lafaz yang di ucapkan bukan niat dalam hati.
2. Ulama Malikiyah.
Menurut al-Baji, siapa yang menikah tetapi tidak bermaksud melanggengkan hubunganpernikahannya, melainkan hanya bermaksud hidup bersama untuk sementara waktu yang tidak tertentu lamanya lalu kemudian suatu saat ia bermaksud menceraikannya maka pernikahan ini di bolehkan. Namunmenurut ImamMalikmeskipunitudibolehkantetapibukan suatu perbuatan yang baik dan bukan akhlak yang terpuji. IbnuAbdial-Barmenambahkan, meskipuniayakin dengan niatnya untuk mentalak tetapi tidak mengut arakannya dalambentuk ucapan maka tidak ada konsekuensi apa-apa menurutpendapatyang masyhur dari Imam Malik. Dapat kita pahami dari pendapat diatas bahwa, pernikahan yang dimaksud adalah nikah yang sebagaimana mestinya, nikah yang lazim dilakukan karena di dalamnya tidak disyaratkan apa-apa, berbeda dengan nikah mut’ah yang di dalamnya diharuskan adanya perceraian setelah selesai batas waktu yang ditentukan atau yang telah di sepakati.
Selanjutnyamenurutal-Baji menukilpendapatImamMalik, bahwa adakalanya seseorang menikahi wanita tanpa maksudmenjalin hubungan yang berkesinambungan, laludikemudianhariiamenyukainya dan kemudian membatalkan niatnya dan bermaksud melanjutkan hubungan nikahnya. Dan adakalanya seseorang menikah yang dari awal pernikahannyabermaksudmenjalinhubunganyangberkesinambungan, tetapidikemudian hari terjadi ketidakcocokan maka ia pun menceraikannya.Maksudnya niat talak dalam hati itu tidak mempengaruhi keabsahan pernikahan karena telah menjadi hak bagi suami untuk meneruskan pernikahan maupun memutuskan bercerai tetapi yang mempengaruhi keabsahan nikah jika ia membatasi dan menentukan batas akhir pernikahan.
Kemudian merahasiakan keinginan tersebut terhadapistritidak masalahdantidak mempengaruhi keabsahannikahsepertiyang dikemukakan oleh al-Sawibahwa apabila seorang suami menyembunyikan atau merahasiakan keinginannya selama bermukim di tempat di mana ia berdomisilpadasaatitu, atau mungkinsetelahsatu tahun, lalu iamenceraikannya setelah itumakahalitutidak masalh sekalipunistrinya mengetahui maksud dari suaminya
3. Ulama Syafi’iyah
Dasar Ulama syafi’iyah termasuk Imam Syafi’i sendiri tidak secara jelas melarang pernikahan semacam ini bahkan cenderung memperbolehkannya selama akad nikah dilakukan secara mutlak tidak syarat tertentu diluar rukun dan syarat nikah.
Apa yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa: Apabila akad nikah dilakukan secara mutlak tanpa ada sesuatu yang disyaratkan (seperti akad hingga batas waktu tertentu) di dalamnya maka akad nikatersebut tetap sah, dan niat tidak berpengaruhapa-apaterhadap pernikahan dikarenakanniat merupakan bahasa hati, sedangkan pikiran apapun yangtertulisdalamjiwaseseorangtidakberdampakapa-apa sebelum terwujud dalam bentuk perbuatan. Sedangkan menurut Nawawi, talak itu dapat diutarakan dalam dua bentuk yaitu dengan lafaz yang sarih dan dengan lafaz kinayah yang disertainiat. Maka apabila talak itu baru sebatas niat dan belum terucapkan melalui lafaz yang sarih maupun lafaz kinayah maka talak tidak sah. karena talak dalam sebatas niat bukan termasuk talak secara sarih dan bukan talak secara kinayah.Nikah niat talak tidak dapat disamakan dengan nikah mut’ah karena tidak ada pembatasan waktu yang di syaratkan. Pandangan al-Syibramalisi tidak sahnya sebuah akad yang disyaratkan batas waktu tertentu maupun tidak ditentukan, akan menyerupai nikah mut’ah sedangkan nikah mut’ahsendiri sudah jelas pelarangnnya.
Dari keterangan tersebut kita dapat menggambilkesimpulanbahwa Ulama Syafi’i juga termasuk membolehkan nikah niat talak tersebut karena menurut mereka niat dalam hati tidak berpengaruh dan berimplikasi apa-apa selamaitu belumdiutarakan dalam bentuk ucapan dan belum terealisasi dalam perbuatan dan terlebih lagi maksud tersebut tidak disebutkan maupun di isyaratkan pada saat akad nikah dilangsungkan
4. Ulama Hanabilah.
Menurutnya talak yang baru sebatas maksud dan berupa keinginan dalam hati yang belum diutarakan adalahtidakberimplikasiapa-apa terhadap keabsahan nikah.Apa yang dikemukakan oleh Ibnu qudamah, apabilaseseorang menikah tanpa ada persyaratan apapun tetapi dalam hati seseorang itu terdapat maksud menceraikannya setelah lewat satu bulan atau setelah keperluannya di suatu tempat sudah selesai, maka nikahnya sah menurut mayoritas ulama. Menurut pandangan mazhab ini nikah niat talak tidak dapat dismakan dengan nikah mut’ah dan nikah tahlil karena subtansi dari keduanya tidak sama dengan nikah dengan niat talak.
Tarjih
Dari pendapat para ulama termasuk jumhur ulama di atas, penulis dapat melihat alasan-alasan yang dijadikan landasan dalam membolehkan nikah dengan niat talak adalah berdasarkan dalil naqli dan aqli antara lain :
a) Dalil naqli.
Berdasarkan hadist Nabi Saw ;Sesungguhnya Allah tidak menanggapi apa yang tersirat dalam hati ummatku, selama ia belum mengucapkannya atau pun melakukannya.(HR Tirmidzi)
Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa tersirat dalam hati berupa niat untuk berbuat sesuatu selama belum direalisasikan dalam bentuk ucapan dan perbuatan, maka tidak berimplikasi apa-apa terhadap hukum. Termasuk nikah denan niat talak tidak dapat dilarang dan dianggap sah berdasarkan keterangan hadist diatas karena talak baru sebatas niat bahkan hadist diatas menunjukkan kebolehan nikah dengan niat talak.
b) Dalil aqli ( dari segi logika )
Nikah yang dilakukan dengan niat talak merupakan nikah yang bersifat mutlak yang memenuhi semua rukun dan syarat nikah sehingga tidak ada celah untuk mengatakan bahwa nikah ini tidak sah.

Pendapat Ulama yang Mengharamkan
Imam al-Auzai
Adalah ulama yang secara tegas mebgharakman perniklahan semacam ini karena dia menganggap seperti nikah mut’ah, sebab nikah dengan niat talak maupun nikah mut’ah antara keduanya sama-sama dikaitkan berakhir dalam waktu tertentu.
Pendapat yang disampaikan oleh al-Mardawi bahwa pernikahan tersebut nikah mut’ah dikarenakan pernikahan mut’ah adalah sebuah pernikahan yang akan berakhir pada waktu yang telah ditentukan atau di syaratkan adanya talak pada waktu tertentu atau adanya niat dalam hati untuk mentalaknya pada waktu tertentu. Dengan alasan yang sama antaraal-Auzi, al-Mardawi, danRasyid Rida, yang mengharamkan nikah seperti ini karena menyerupai nikah mut’ah,sebagaimana beliau kemukakan di dalam tafsir al-Manar, bahwa ketegasan ulama terdahulu dan sekarang mengenahai keharaman nikah mut’ah berimplikasi pada pelarangan terhadap nikah dengan niat talak meskipun para ahli fiqh berpendapat bahwa akad nikat tetap sah walaupun si suami mempuyai maksud menceraikan istrinya pada waktu tertentu, akan tetapi niatnya itu tidak
ia syaratkan dalam sighah akad, tapi sikap suami merahasiakan niatnya tersebut kepada istrinya dapat dikatagorikan suatu penipuan atau tipu daya. Setelah melihat dan memperhatikan para pendapat ulama yang mengharamkan pernikahan tersebut yakni nikah dengan niat talak, maka penulis dapat memformalisasikan bahwa sumber-sumber yanhg di jadikan dasar untuk mengharamkan pernikahan ini dengan berdasarkan analog (qiyas), dengan pertimbangan maqhosid as-syariyah dan Saat-Dzariyah.
a) Analogi (Qiyas).
pendapat ini menganalogikan bahwa antara nikah dengan niat talak dengan nikah mut’ah dengan melihat ada kesamaan antara keduanya dari segi keterkaitan keduanya dengan waktu tertentu. Apa yang sikatakan oleh Al-Zarkhasy, bahwa nikah dengan niat talak tidak sah karena ada kesamaan dengan nikah mut’ah, karena yang serupa dengan sesuatu akan disamakan hukumnya dengan sesuatu yang diserupakan. Adapun kesamaanya adalahkeduanya ada keterkaitan dengan waktu yang telah ditentukan, walau demikian waktu penentuanya berbeda kalau hikah Mut’ahpenentuanwaktuditentukanpadasaatakadsedangkannikah dengan niat talak penentuan waktunya dietentukan dalam hati
b) Larangan Nikah Dengan Niat Talak Berdasarkan Takaran Maqasid Al-Syari’ah.
Tujuan nikah adalah menjalin hubungan rumah tangga secara berkelanjutan, menjaga ketentraman dan memelihara keturunan. Dan apabila sebab pernikahan secara umum dilakukan oleh manusia dengan tujuan mulia dan bersifat kontiyu seperti membina rumahtangga, mendidik, dan membina keturunan dalam bentuk edukasi. Dimana tujuan-tujuan pernikahan ini tidak akan didapatkan dalam pernikahan yang diniatkan berakhir dalam waktu tertentu

KESIMPULAN
Nikah dengan niat cerai mempuyai kesamaan dengan nikah tahlil karena keduanya mempuyai keinginan menceraikan istrinya, akantetapitidakdiutarakan dalamakad karena muhallil terdapat maksud mentalak istrinya untuk memutuskan jalan bagi bekas suami pertama untuk kembali ke istrinya. Nikah ini juga menyerupai dengan nikah mut’ah bahwa pernikahanakanberakhir dalam waktu tertentu dimana seseorang menikahi wanita walaupun sang suami tidak menyebut batas waktu tertentu dalam akad nikah, akan tetapi ia bermaksud menceraikannya setelah urusannya di suatu tempat dimana ia bermukim selesai
Ada jenis pernikahan yang disepakati kebenarannya seperti halnya pernikahan yang lazim dilakukan, ada pula jenis pernikahan yang dilarang seperti nikah tahlildannikah mut’ah menurut pendapat para ulamadan ada juga jenis pernikahan yang diperselisihkan seperti nikah dengan niat talak.
Kemudian dalam menyikapai nikah dengan niat talak ini para ulama terbagi menjadi tiga pendapat antara lain; mayoritas para ulama dari golongan Malikiyah, Syafi’iyahdanHanafiyah, sedangkan ulama Hanabila mengatakan hukumnya boleh nikah dengan niat talak. Ulama seperti Rasyid Ridha dan Auza’Imelarangnyaatau mengharamkannya. SedangkanImamMalikdanAhmad bin Hambal memakruhkan nikah dengan niat talak.












DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Mahmud bin Maudud ,al-Ikhtiyar Li Ta’lîl al-Mukhtar, (Beirut: Dar al Ma’rifah, t.th) jilid 2, h.89 dan al-Dzahabi, al-Syarîah al-Islamiyah Dirasah Muqaranah baina Madzahib Ahli al Sunnah wa Madzhab al-Ja’fariyah, (Mesir: Daral-Ta’lîf , 1968)h. 71

Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sajastani al-Azadi, Sunanu Abu Daud,(Suria, Dar al-Hadits.1389H/969M)cet.ke,I,jilid 2. H.559.no.2073.

Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, selanjutnya disebut al-Baihaqi, Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, Kitab Adab al-Qadi , (Beirut: Daral Ma‟rifah, t.th) jilid 10, h.91

Ahmad Muhammad al-Sawi al-Misri al-Khaluti. Lahir di Sa’al-Hajar dipinggiran sungai Nil di Mesir bagian barat pada tahun 1175H/1761M, salah seorang pengikut mazhab Maliki yang dikenal berpengetahuan luas. Dan wafat di Madinah pada tahun1241H/1825 M.(Mukjam al-Muallifin, jilid 2,h.111)

al-Baghawi, al-HusainbinMas’id, Ma’alimal-Tanzîl, (Beirut:Dar al-Ma’rifah,1406H/1986M) cet. ke-I, jilid 1, h.506

al-Baji, Sulaiman bin Khalaf, selanjutnya disebut al-Baji, al-Muntaqa Syarh Muwatta’ Malik, (Tt, Matba’ah al-Sa’adah Bijiwar Muhafazah Misr, 1332 H) Cet. Ke-1 jili d 3 h. 335

al-Jassas, Ahkam al-Qur’an, ( Beirut: Dâr al-Fikr, 1414 H/ 1993 M), jilid 2, h.208

al-Syafi’i, al-Um, jilid 5, h.86, Ibnu Qudama, al-Mughni, jilid 10, h.48 dan Ibnu Muflih,
al-Mubdi’ Syarah al-Muqni,(T.t, al-Maktabal-Islâmî, 1397 H/1977 M) jili d 7,
h. 87

Ibnu Abd al-Bar, kitab al-kafi, Riyad; Maktabah al-Riyad al-Haditsah, t, th ,jilid 2,h.533

Ibrahim Mustafa dkk, al-Mukjam al-Wasit, (Istanbul: al-Maktabah al-Islamiyah, t.th) jilid 2, h.853

Ibnu Qudamah, al-Mughni, (Kai ro: Hijrah, 1412 H/1992 M) Jilid 10, h.48 Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihaya al-Muqtashid, jili d 2, h.58

Ibnu Taimiyah, Ahkam al-Zawaj,(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988 M/ 1408 H.) hal.150.

Ibnu Qayyim, Alam al-Muwaqqi’in, (Riyad:Maktabah Nazar Mustafa al-Baz, 1417H/1996
M) jilid 3, h. 84

Muhammad bin AbdillAh al-Zarkasyi, selanjutnya disebut al-Zarkasyi, Syarh Mukhtasar al-Khiraqi fî al-fiqh ala madzhab al-Imam Ahmad bin Hambal, tahqiq Abdullah bin Abdurrahman bin Abdillahal-Jabrin (T.t, t.pn,1410 H ) jili d 5, h. 229)

Muhammad bin „Ali bin Muhammad al-Syaukani, selanjutnya disebut al-SyauknI, Nail al- Autar, (Beirut : DAral-Kutub al-„Ilmiyah, t.th ) Jilid 6, h. 139

Muhammad Ali al-Sabuni, Rawa’i al-Bayan tafsir ayat al-Ahkam, (Jakarta: Dar- al- Kutub al-Islamiyah, t.t h) jilid 1, h. 340

Muhammad bin Utsman al-Dzahabi, al-Muhadzdzab fi Iktisar al-Sunan al-Kubra li al- baihaqi ( Riyad dar al-Watan 2001M/1422H)hadits no 11249,jilid 6,h.2779

Muhammad bin„Abd al-Wahid Ibnu al-Humam, selanjutnya disebut Ibnu al-Humam, Syarh Fath al-Qadîr, (Mesir: Matba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi, 1970 M/ 1389 H), Jilid 3, h.249

Muhammad Said al-Ribatabi, al-Muqaddamatt al-zakiyyah, (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi , 1974 M / 1484 H ) h. 212

Rasyid Rida,Tafsir al-Qur’anul al-Karim al-Musamma bi Tafsir al-Manar,(T.t,Dar‟al- Manar, 1367 H). Cet. ke- 3, Jilid 5, h. 17.

Sunan Ibnu Majah, Kitab al-Nikah, Bab al -Muhallal Wa al-MuhallalLah , Jilid 1, h. 623 . Sunan Abu Daud, Kitab al-Nikah, Bab Fî Tahlil, jilid 1, h. 479 dan Sunan Tirmidzi, al-Nikah, Bab Ma Jaa Fî al-Muhallal wa al-MuhallalLah.

Sahih Bukhari, Kitab Tafsîr Surah al-Maidah. Bab La Tuharrimu Tayyibati Maahallallahu lakum. Hadis no. 1657. dan Sahih Muslim syarh al-Nawawi, Kitâb al-Nikah, Bab Nikah al-Muth‟ah, hadis no. 1405 j ili d 9, h.259

Sahih Muslim, Jilid 7, h. 114, No. 995 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Jilid 2, h. 46

Tariq Ismail, al-zawaj fi al-Islam. terj. Setiawaan Budi Utomo, (Jakarta, Akbar Media Eka Sarana)h.13

Wahbah Zuhaili, Fiqih al-Sunnah, (Bairut, Dar al-Fikr 1997M) jilid,9.h.6558